
Zulhas Tak Usulkan MBG Diganti Uang Rp300 Ribu
10 menit yang lalu
Laba bersih gabungan BUMN mencapai Rp214,9 triliun pada Januari–Agustus 2026, menurut paparan Danantara.
Terbit · 2 min read

Menurut laporan ANTARA, Direktur Operasional (COO) Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) Indonesia Dony Oskaria menyatakan transformasi pengelolaan badan usaha milik negara (BUMN) turut meningkatkan laba bersih gabungan sebesar 18,4 persen menjadi Rp214,9 triliun pada Januari–Agustus 2026.
Dony, yang juga menjabat Kepala Badan Pengaturan BUMN, memaparkan capaian itu dalam Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Senin (26/10/2026). "Karena itu tadi, transformasi yang sudah kita lakukan memberikan hasil," kata Dony dalam sesi para eksekutif puncak Danantara.
Berdasarkan data yang ditampilkan Danantara, laba bersih gabungan BUMN naik dari Rp181,5 triliun pada Januari–Agustus 2025 menjadi Rp214,9 triliun pada periode yang sama tahun ini. Dengan demikian, laba bertambah Rp33,4 triliun secara tahunan.
Menurut laporan yang sama, kenaikan laba diikuti perbaikan tingkat pengembalian atas ekuitas (ROE) yang disetahunkan, dari 7,4 persen menjadi 8,0 persen. ROE gabungan BUMN naik 0,6 poin persentase, yang mencerminkan perbaikan tingkat pengembalian atas modal pemegang saham.
Dony menjelaskan, transformasi dilakukan melalui evaluasi model bisnis, sumber dan komposisi pendapatan, struktur biaya, serta tingkat keuntungan perusahaan dengan mengacu pada praktik terbaik industri global. Ia mengaitkan perbaikan kinerja dengan pembenahan bertahap, termasuk penguatan disiplin keuangan dan tata kelola BUMN.
Salah satu BUMN dengan pertumbuhan laba terbesar adalah PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, yang laba bersihnya naik 427 persen secara tahunan pada Januari–Agustus 2026. Paparan Danantara juga menunjukkan kenaikan laba Pupuk Indonesia sebesar 233 persen dan Danareksa 110 persen.
BUMN lain yang mencatat peningkatan laba secara tahunan ialah Pertamina sebesar 48 persen, Pelindo 45 persen, Bank Tabungan Negara 35 persen, dan Bank Mandiri 16 persen.
Menurut Dony, peningkatan kinerja BUMN penting bagi keberlanjutan Danantara karena sumber pendanaan investasinya bertumpu pada dividen perusahaan negara. Perbaikan profitabilitas disebut memperkuat kapasitas Danantara membiayai investasi di sektor strategis yang diharapkan menambah pendapatan dan membuka lapangan kerja.
Sebelumnya, pada 8 Oktober 2026, Dony menyampaikan bahwa Danantara membenahi tata kelola BUMN, antara lain dengan membentuk komite investasi agar setiap penanaman modal sesuai peruntukan dan rencana kerja perusahaan. Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyatakan dividen Danantara belum diperhitungkan sebagai penerimaan APBN pada 2026 dan 2027, sementara kontribusinya dapat dilihat dari kemampuan menciptakan lapangan kerja, meningkatkan produksi, dan menarik investasi swasta.
Danantara diluncurkan Presiden Prabowo Subianto pada 24 Februari 2025 sebagai lembaga pengelola investasi strategis nasional. Pembentukannya berlandaskan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2025 dan Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2025.