
Unika De La Salle dan Unima Berdayakan Warga Kinabuhutan
13 menit yang lalu
Kebakaran mengancam habitat satwa di TN Wasur, sementara BNPB mencatat luas area terbakar di Papua Selatan menurun.
Terbit · 1 min read

Kebakaran hutan dan lahan di Papua Selatan mengancam ekosistem Taman Nasional Wasur di Kabupaten Merauke, termasuk habitat burung endemik Papua dan burung migran. Menurut laporan CNN Indonesia yang mengutip Detik, BNPB mencatat luas area terbakar di provinsi itu mencapai 695 hektare per 1 November 2026 pukul 17.00 WIB.
Dari luas tersebut, 253 hektare masih berstatus belum padam. BNPB juga mencatat 379 titik panas dan 171 titik api di Papua Selatan.
Menurut data BNPB yang dikutip dalam laporan itu, luas area terbakar turun dari 1.742 hektare pada 31 Oktober menjadi 695 hektare pada 1 November 2026. Area yang belum padam juga berkurang dari 577 hektare menjadi 253 hektare.
Kebakaran menjadi perhatian karena Balai Taman Nasional Wasur mencatat kawasan itu merupakan habitat 403 spesies burung. Sebanyak 74 spesies di antaranya endemik Papua dan sekitar 114 spesies termasuk satwa dilindungi.
Taman Nasional Wasur juga menjadi tempat persinggahan burung migran dari Australia dan Selandia Baru. Kebakaran berpotensi merusak vegetasi dan lahan basah yang menjadi tempat satwa berlindung, mencari makan, dan berkembang biak; asap serta perubahan lingkungan juga dapat berdampak pada habitat.
Untuk menangani kebakaran, BNPB dan BMKG memperkuat pemantauan menggunakan citra satelit, pesawat nirawak, dan sistem digital. Penanganan melibatkan BPBD, pemerintah daerah, TNI-Polri, Manggala Agni, serta unsur terkait lainnya.
BNPB dan BMKG juga melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca untuk meningkatkan peluang hujan di wilayah terdampak. Hingga 31 Oktober 2026, operasi itu telah melakukan 13 sorti penyemaian awan dengan total 13.000 kilogram natrium klorida.
Berton SP, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, menyebut Kepala BNPB Letjen TNI Kristomei Sianturi dan Kepala BMKG Teuku Faisal melakukan pemantauan udara pada 31 Oktober 2026. Dalam pemantauan itu, kepulan asap dan sejumlah titik api di Kabupaten Merauke masih terlihat, sementara penanganan diperkuat melalui pemantauan dan koordinasi lintas unsur.