
Garudayaksa Kalahkan PSS 3-1 di Pakansari
17 menit yang lalu
Parluhutan menilai literasi digital dan berpikir kritis penting untuk menghadapi manipulasi informasi.
Terbit · 1 min read

Kepala Pusat Bela Negara Badan Cadangan Nasional Kementerian Pertahanan Brigjen TNI Parluhutan Marpaung mengingatkan generasi muda agar mewaspadai perang kognitif yang memanfaatkan ruang digital untuk memengaruhi masyarakat. Menurut laporan ANTARA, ia menyampaikan hal itu saat menjadi pemateri Pelatihan Kader Bela Negara Kadet Republik Indonesia (KKRI) 2026 Tingkat I.
Pelatihan berlangsung di Rindam Iskandar Muda, Kabupaten Aceh Besar. Keterangan mengenai kegiatan itu diterima di Banda Aceh pada Minggu (1/11/2026), tetapi bahan tidak menyebutkan tanggal pelaksanaannya.
Parluhutan menjelaskan bahwa perang kognitif menyasar pikiran, persepsi, emosi, dan pola pikir masyarakat, berbeda dari perang konvensional yang menggunakan persenjataan. Ia menyebut konflik tersebut berlangsung secara senyap dan sistematis melalui berbagai saluran, terutama ruang digital.
Menurut laporan yang sama, Parluhutan menilai penyebaran berita bohong atau hoaks menjadi salah satu jalur perang kognitif. Kemajuan teknologi informasi dan kecerdasan buatan, katanya, dapat memperluas ancaman dan dimanfaatkan untuk merusak kepercayaan terhadap fakta, media resmi, institusi, serta lembaga negara.
Parluhutan mengatakan generasi muda penting memahami ancaman itu karena intensitas interaksi mereka dengan media digital tinggi. Ia menyebut manipulasi informasi, disinformasi, propaganda, polarisasi, dan pembentukan opini sebagai risiko yang dapat mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat.
Ia mendorong penguatan literasi digital dan kemampuan berpikir kritis agar masyarakat tidak mudah terprovokasi serta memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya. Dalam perspektif bela negara, Parluhutan mengaitkan kemampuan menyaring informasi secara bertanggung jawab dengan ketahanan kognitif.
Pelatihan tersebut diikuti 300 peserta dari 61 satuan pendidikan tingkat SMA atau sederajat di 12 kabupaten dan kota di Aceh. Peserta mendapat materi wawasan kebangsaan, bela negara, kesehatan mental, dan kedisiplinan, serta mengikuti kegiatan luar ruang untuk membangun kerja sama dan kepedulian.