
Polsek Pancoran Tangani Dugaan Narkoba Sopir Truk
13 menit yang lalu
Program SIKAP diterapkan di 1.548 sekolah di Jawa Timur untuk mendukung ketahanan pangan nasional.
Terbit · 2 min read

Menurut laporan ANTARA, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mendorong sekolah menjadi ruang belajar dan inovasi ketahanan pangan melalui Program Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan (SIKAP), yang telah diterapkan di 1.548 sekolah di Jawa Timur.
Pernyataan itu disampaikan Khofifah dalam keterangan yang diterima di Surabaya, Rabu (28/10/2026). "Program SIKAP memberikan gambaran bahwa penguatan ketahanan pangan nasional dapat dimulai dari lingkungan sekolah dan secara langsung melibatkan seluruh warga sekolah," kata Khofifah.
Menurut laporan yang sama, pada 2026 SIKAP telah diterapkan di 1.548 sekolah yang tersebar di 38 kabupaten/kota di Jawa Timur. Jumlah tersebut terdiri atas 596 sekolah menengah atas (SMA), 759 sekolah menengah kejuruan (SMK), dan 193 sekolah luar biasa (SLB).
Program tersebut mengantarkan Pemerintah Provinsi Jawa Timur meraih Penghargaan Inovasi Membangun Negeri 2026 kategori Innovation for Public Service yang diselenggarakan TV One. Penghargaan diserahkan Wakil Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Komjen Pol. (Purn.) Purwadi Arianto kepada Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Aries Agung Paewai di Jakarta, Senin (26/10/2026).
Khofifah mengatakan, SIKAP merupakan upaya mendukung ketahanan pangan nasional dan mewujudkan swasembada pangan melalui sektor pendidikan. Lingkungan sekolah dinilai berpotensi menjadi tempat produktif untuk membudidayakan tanaman pangan dan hewan ternak sekaligus sarana pembelajaran bagi peserta didik.
Ia menegaskan, penguatan ketahanan pangan tidak selalu membutuhkan lahan pertanian yang luas, dan sekolah dapat memanfaatkan lahan yang tersedia sesuai dengan kondisi dan kemampuan masing-masing. "Ketahanan tidak harus dari lahan luas yang berhektar-hektar, tetapi dapat dimulai dari lahan seadanya yang kita miliki, dari lahan yang ada di sekolah diolah menjadi lebih produktif," katanya.
Selain mendukung ketahanan pangan, program tersebut memberikan pengalaman belajar langsung kepada siswa melalui kegiatan menanam, merawat, hingga memanen. Menurut Khofifah, aktivitas ini juga membentuk karakter mandiri, disiplin, kreatif, bertanggung jawab, bergotong royong, dan peduli terhadap lingkungan, serta sejalan dengan pendekatan pembelajaran mendalam karena siswa dapat menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan sehari-hari.
Khofifah menambahkan, keberlanjutan SIKAP membutuhkan keterlibatan seluruh warga sekolah, penguatan kapasitas guru, kemitraan, serta pengembangan inovasi. Sekolah diharapkan mengoptimalkan lahan dan media tanam agar kegiatan budidaya dapat menghasilkan produk pangan secara berkelanjutan.
Menurut laporan yang sama, Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Aries Agung Paewai mengatakan SIKAP merupakan bentuk komitmen pemerintah provinsi dalam menyelaraskan inovasi daerah dengan prioritas pembangunan nasional, terutama ketahanan pangan.