
Lazio Puncaki Klasemen Liga Italia
12 menit yang lalu
Program Rumah Jiwa memadukan kegiatan keterampilan dan kewirausahaan untuk mendukung pemulihan serta kemandirian pasien.
Terbit · 1 min read

Puskesmas Cipayung mengembangkan program Rumah Jiwa untuk mendukung pemulihan dan pemberdayaan pasien orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang kondisinya telah stabil. Menurut laporan ANTARA yang terbit Senin (2/11/2026), program ini menggabungkan kegiatan rehabilitasi sosial, pelatihan keterampilan, dan kewirausahaan.
Program tersebut berada di Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur. Puskesmas setempat juga menyediakan layanan kesehatan jiwa dan konseling di dalam gedung, serta skrining, kunjungan rumah, dan penanganan kegawatdaruratan di luar gedung.
Layanan konseling dibuka Senin hingga Jumat, sedangkan layanan kesehatan jiwa tersedia setiap Selasa dan Kamis. Kepala Puskesmas Cipayung Agung Dewanto mengatakan layanan itu didukung seorang psikolog klinis, seorang dokter umum tersertifikasi, dan seorang perawat ahli.
Menurut laporan yang sama, sekitar 10 hingga 15 pasien mengakses kedua layanan tersebut setiap hari. Puskesmas Cipayung mengaktifkan layanan kesehatan jiwa dan konseling sejak 2018.
Pasien yang mengikuti Rumah Jiwa dilibatkan dalam kegiatan hidroponik dan budi daya ikan. Mereka juga mendapat bimbingan membuat batik ikat celup dan kerajinan decoupage sebagai bagian dari kegiatan pemulihan.
Program itu turut membekali pasien dengan keterampilan membuat produk, seperti telur asin dan makanan olahan. Hasil kegiatan, termasuk sayuran hidroponik dan produk perikanan, dijual di Puskesmas Cipayung melalui program Jumat Harapan dengan pendampingan pengasuh.
Agung mengatakan peserta yang semula cenderung murung dan pendiam menunjukkan perubahan setelah mengikuti kegiatan selama tiga hingga empat bulan. Ia menyebut sebagian peserta menjadi lebih ceria, lebih mudah berbicara, dan bersemangat.
Salah satu peserta, yang dalam laporan disebut Ana, bergabung setelah kondisinya stabil. Ia membuat 150 butir telur asin setiap dua minggu untuk dijual seharga Rp5 ribu per butir, dan mengatakan dukungan keluarga mendorong produktivitasnya.