
Joune Ganda Minta Inovasi ASN Berdampak Nyata
14 menit yang lalu
Pengairan dari sumur dalam membantu meningkatkan frekuensi panen dan mendorong usaha pangan desa.
Terbit · 2 min read

Desa Kaliwedi di Kabupaten Sragen mengembangkan pertanian dan usaha pangan dengan dukungan sumur dalam, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), serta partisipasi warga. Menurut laporan ANTARA, upaya tersebut membantu meningkatkan hasil panen dan membuka lapangan kerja bagi masyarakat.
Kaliwedi kini berstatus Desa Mandiri, setelah sebelumnya menyandang status Desa Tertinggal hingga 2018. Sekitar 90 persen warganya menggantungkan hidup dari pertanian; laporan itu juga menyebut Sragen berada di peringkat ketiga penghasil padi di Jawa Tengah.
Kepala Desa Kaliwedi Daryono mulai mencari solusi atas keterbatasan air setelah dilantik pada Desember 2013. Pemerintah desa kemudian belajar dari penggunaan sumur dalam di Kabupaten Ngawi dan merintis pembangunannya pada 2015.
Pembangunan satu sumur dalam membutuhkan biaya sekitar Rp70 juta. Setelah berdiskusi dengan warga dan memperhitungkan jangkauan pengairan empat hingga lima hektare per sumur, pemerintah desa melanjutkan pembangunan dengan biaya yang bersumber dari Kredit Usaha Rakyat.
Kini 108 sumur dalam mengairi sekitar 250 hektare lahan di Kaliwedi. Sebelum pembangunan sumur, sawah rata-rata hanya panen sekali setahun dengan produksi 7,5 ton; pada 2025, frekuensi panen meningkat menjadi tiga kali setahun dengan rata-rata produksi tahunan 22,5 ton per hektare.
Sutarno, petani yang telah bekerja lebih dari satu dekade, mengatakan sawah garapannya dahulu hanya mengandalkan hujan dan kadang mengalami gagal panen. Ia berkata, “Dulu memang sangat kekurangan sekali, baik itu sandang, pangan, memang agak kesulitan sekali, karena boleh dikatakan panen sekali, kadang-kadang dalam satu tahun itu gagal.”
Selain padi, BUMDes Karya Mandiri mengelola usaha melon, kelengkeng, sayuran, ayam petelur, serta budi daya ikan nila dan lele. Daryono mengatakan, “Waktu itu masyarakat Desa Kaliwedi banyak yang merantau ke luar karena tidak ada pekerjaan, karena sawahnya tidak bisa digarap. Sekarang, justru kami sampai bisa mempekerjakan orang-orang dari luar desa untuk membantu pertanian di sini.”
BUMDes itu juga mengembangkan usaha internet dan pariwisata, dengan pendapatan Rp1,8 miliar pada 2025. Di sisi lain, pemuda setempat mengelola rumah kaca melon seluas 3.500 meter persegi yang menampung 7.000 tanaman dan, menurut laporan ANTARA, dapat menghasilkan sekitar 10 ton melon serta 70 kilogram benih kering dalam satu kali panen.