
Pidie Jaya Minta Kemenbud Selamatkan 81 Situs Sejarah
15 menit yang lalu
Minat investor dinilai cukup baik pada reksa dana jangka pendek, sementara nilai aktiva bersih turun pada September.
Terbit · 2 min read

Allianz Global Investors (AllianzGI) Indonesia menilai reksa dana pasar uang dan reksa dana pendapatan tetap berdurasi pendek masih diminati investor di tengah dinamika pasar keuangan. Menurut laporan ANTARA, Presiden Direktur AllianzGI Indonesia Aliyahdin Saugi menyampaikan penilaian itu dalam Media Roundtable di Jakarta, Senin (2/11/2026).
Dalam laporan yang terbit 2 November 2026 tersebut, Aliyahdin mengatakan minat terhadap reksa dana terlihat dalam beberapa tahun terakhir, terutama pada produk investasi berjangka pendek. Ia menyebut minat terhadap reksa dana saham belum menunjukkan perkembangan serupa.
Aliyahdin mengatakan sebagian investor cenderung menunggu perkembangan pasar sebelum mengambil keputusan, di tengah berbagai ketidakpastian. Menurutnya, tekanan pasar sepanjang 2026 memengaruhi kinerja berbagai jenis reksa dana, dengan dampak terbesar pada produk berbasis saham.
Ia menyebut penurunan harga saham tidak hanya terjadi pada sektor atau kelompok perusahaan tertentu, tetapi juga memengaruhi saham perusahaan dengan fundamental usaha yang baik. Meski demikian, ia menilai investor perlu tetap memperhatikan tujuan jangka panjang dan pengelolaan risiko.
Data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia mencatat jumlah investor reksa dana dengan identitas investor tunggal (SID) mencapai 32,19 juta per 29 Oktober 2026. Angka tersebut meningkat sekitar 68 persen dibandingkan 19,19 juta pada akhir 2025.
Sementara itu, data Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan nilai aktiva bersih reksa dana sebesar Rp637,07 triliun pada akhir September 2026, turun 2,42 persen secara bulanan. Pada periode yang sama, terjadi pencairan bersih dana reksa dana sebesar Rp10,43 triliun.
AllianzGI mencatat aset kelolaan perusahaan mencapai Rp35,97 triliun per 30 September 2026. Dari jumlah itu, Rp1,17 triliun berada pada instrumen pasar uang dan Rp17,13 triliun pada instrumen pendapatan tetap.
Aliyahdin mengingatkan investor agar mempertimbangkan karakteristik serta risiko produk, bukan hanya potensi imbal hasil. Ia mengatakan diversifikasi reksa dana dapat mengurangi ketergantungan pada satu aset, tetapi tidak menghapus risiko kerugian ketika pasar memburuk; OJK juga menjelaskan bahwa reksa dana pasar uang berisiko relatif rendah, namun tetap memiliki risiko investasi.