
Zulfahmi Nilai Hakim Danish Terlalu Fokus pada Rival
8 menit yang lalu
Indonesia mendorong perdagangan digital dan kerja sama untuk memperluas akses produk nasional ke pasar negara-negara OKI.
Terbit · 1 min read

Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri menyampaikan bahwa Indonesia mendorong perluasan akses produk unggulan nasional ke pasar internasional melalui perdagangan digital dan kerja sama antarnegara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Menurut laporan CNBC Indonesia, Roro menyampaikan hal itu dalam B57+ Business Leaders' Summit 2026.
Forum tersebut berlangsung di Istanbul, Turki, pada Minggu (1/11/2026) waktu setempat. Dalam kesempatan itu, Roro menyoroti potensi pasar negara-negara OKI yang berpenduduk lebih dari 2 miliar jiwa.
Lebih dari separuh penduduk di negara-negara OKI berusia di bawah 30 tahun. Menurut Roro, kelompok usia tersebut menjadi peluang untuk mengembangkan wirausaha, inovasi produk, dan perdagangan digital.
Roro menyebut Indonesia memiliki sekitar 280 juta penduduk, termasuk 62,39 juta penduduk Generasi Z dan sekitar 57 juta generasi milenial. Potensi demografi itu dinilai dapat mendorong lahirnya pelaku usaha baru dan memperluas pemasaran produk nasional ke pasar internasional.
Saat menjadi panelis dalam sesi tentang konvergensi generasi muda, kecerdasan buatan, kewirausahaan, dan perkembangan digital OKI, Roro mengatakan, “Penting bagi kita untuk memahami kebijakan perdagangan di setiap negara, bagaimana kebijakan tersebut saling berkaitan, serta bagaimana kita dapat berbagi informasi mengenai peluang ekspor dan akses pasar.”
Ia menambahkan, “Dengan kolaborasi, kita dapat mengidentifikasi pola perdagangan dan menentukan langkah yang dapat dilakukan bersama.” Roro juga membahas peran generasi muda, teknologi, dan kerja sama antarnegara dalam memperluas akses perdagangan.
Roro menyoroti pengalaman ASEAN dalam membangun konektivitas ekonomi digital, termasuk melalui ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA) dan sistem pembayaran lintas negara. Pemanfaatan pembayaran digital seperti QRIS di Indonesia dan sejumlah negara ASEAN dinilai dapat menjadi pengalaman untuk memperkuat konektivitas ekonomi digital di kawasan yang lebih luas.