
KPK Sita Dokumen dan Uang di PUPR Klaten
12 menit yang lalu
Airlangga menilai kondisi makroekonomi stabil, sementara BI menyebut tekanan global dan domestik memengaruhi rupiah.
Terbit · 2 min read

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto optimistis nilai tukar rupiah tidak akan melemah hingga menembus Rp19.000 per dolar AS. Menurut laporan ANTARA, ia menyampaikan optimisme itu karena menilai kondisi makroekonomi Indonesia masih relatif stabil.
Airlangga menyampaikan pernyataan tersebut saat ditemui di Jakarta pada Rabu (28/10/2026). Pada penutupan perdagangan hari itu, rupiah melemah 28 poin atau 0,15 persen menjadi Rp18.184 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp18.156.
“Ya, kita lihat saja, tapi kita lebih optimis (rupiah tidak tembus Rp19.000 per dolar AS). Nanti kita lihat, kita optimis dengan kondisi makroekonomi,” kata Airlangga, menurut laporan yang sama.
Bank Indonesia (BI) menyebut pergerakan rupiah dan mata uang kawasan dipengaruhi ketidakpastian penyelesaian konflik Timur Tengah. Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang diterbitkan BI pada Rabu sore tercatat Rp18.183 per dolar AS.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan konflik tersebut menjaga harga minyak tetap di atas 115 dolar AS per barel dan meningkatkan risiko fiskal. Ia juga menyebut ekspektasi kenaikan suku bunga Amerika Serikat meningkat.
Menurut laporan yang sama, Erwin menjelaskan bahwa memburuknya sentimen penghindaran risiko mendorong penguatan dolar AS dan arus keluar dana dari pasar negara berkembang, di tengah kenaikan imbal hasil obligasi. Dari dalam negeri, kekhawatiran atas potensi penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI serta meningkatnya kebutuhan valuta asing menjelang akhir bulan turut menekan aliran dana.
Erwin menyebut pergerakan rupiah secara umum masih sejalan dengan mata uang kawasan. Secara bulanan, rupiah melemah 1,15 persen, sementara cadangan devisa tercatat sebesar 146,3 miliar dolar AS pada akhir September 2026.
BI menyatakan terus melakukan stabilisasi melalui transaksi kontrak berjangka tanpa penyerahan valuta (NDF), kontrak berjangka domestik tanpa penyerahan valuta (DNDF), dan transaksi valuta dengan penyelesaian segera. BI juga membeli Surat Berharga Negara di pasar sekunder. Erwin mengatakan BI juga berkoordinasi dengan korporasi, pelaku pasar, dan pihak terkait lainnya.