
Kuasa Hukum Gibran Paparkan Riwayat Pendidikan
8 menit yang lalu
Riset mendalam dinilai berpeluang melahirkan usaha teknologi berskala besar, dengan dukungan talenta dan investasi.
Terbit · 2 min read

Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Mohammad Fauzan Adziman menilai pengembangan teknologi berbasis riset membuka peluang lahirnya perusahaan rintisan berstatus unikorn di Indonesia. Menurut laporan ANTARA, ia menyampaikan hal itu dalam diskusi panel Danantara Technology Innovation Investment Forum 2026 di Jakarta, Rabu (28/10/2026).
Fauzan membandingkan perkembangan perusahaan teknologi mendalam di Eropa dengan perusahaan rintisan teknologi konvensional. Data PitchBook yang dirujuk McKinsey dan ditampilkan dalam paparannya menunjukkan perusahaan teknologi mendalam di Eropa rata-rata mencapai status unikorn dalam lima tahun tujuh bulan, sedangkan perusahaan konvensional membutuhkan tujuh tahun 11 bulan.
“Di Eropa, perusahaan teknologi mendalam mencapai valuasi lebih dari satu miliar dolar AS (unikorn) dalam lima tahun tujuh bulan, atau dua tahun empat bulan lebih cepat,” kata Fauzan. Status unikorn merujuk pada perusahaan rintisan dengan valuasi sedikitnya satu miliar dolar AS atau sekitar Rp18,14 triliun.
Menurut laporan yang sama, Fauzan menjelaskan teknologi mendalam bertumpu pada penelitian ilmiah, memiliki keunggulan yang sulit ditiru, dan berpotensi dikembangkan menjadi usaha berskala besar. Ia menyebut penguasaan kekayaan intelektual dan kemampuan menjawab kebutuhan jangka panjang sebagai keunggulan perusahaan di bidang tersebut.
Bidang energi, pangan, dan kesehatan disebut berpotensi memanfaatkan pengembangan teknologi itu. Fauzan menilai penguatan kemampuan riset diperlukan agar perusahaan dapat menghasilkan inovasi sendiri, bukan hanya bergantung pada teknologi yang sudah tersedia.
Dalam paparannya, Fauzan menyebut porsi belanja penelitian dan pengembangan yang dilaksanakan sektor usaha di Indonesia pada 2022 sebesar 16,7 persen dari total belanja nasional. Angka itu lebih rendah daripada Taiwan sebesar 85,5 persen, Korea Selatan 79,4 persen, China 77,6 persen, dan Jepang 73,1 persen.
Fauzan mengatakan penguatan riset dunia usaha perlu disertai pengembangan sumber daya manusia, pembiayaan, dan kepercayaan investor. “Kita perlu membangun dua hal dengan kuat, yaitu talenta, kemudian kepercayaan,” katanya.
Ia juga menilai dukungan investasi penting karena pengembangan teknologi membutuhkan waktu dan pembiayaan sebelum dapat dimanfaatkan secara komersial. Pemerintah, melalui Kemdiktisaintek, sebelumnya melaporkan telah mengucurkan sekitar Rp454 miliar untuk lebih dari 1.070 judul penelitian aplikatif yang melibatkan kerja sama perguruan tinggi dan industri, serta membuka skema pendanaan dan program kemitraan untuk mendorong penerapan hasil penelitian.