
Listyo Ajak Buruh Tingkatkan Keterampilan
10 menit yang lalu
Amran menyebut produksi dan cadangan beras menjadi modal Indonesia menghadapi gejolak pangan global.
Terbit · 1 min read

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut kondisi pangan Indonesia relatif aman di tengah ketegangan geopolitik dan risiko gangguan rantai pasok. Menurut laporan CNNIndonesia.com, ia mengaitkan kondisi tersebut dengan produksi dalam negeri dan cadangan beras.
Dalam keterangan resmi pada Minggu (1/11/2026), Amran menyampaikan bahwa cadangan beras pemerintah yang dikelola Perum Bulog mencapai sekitar 4,5 juta ton per Senin (26/10/2026).
Amran juga menyebut potensi sekitar 10 juta ton beras dari tanaman padi yang siap dipanen dan sekitar 10 juta ton stok di sektor hotel, restoran, dan katering. Ia memperkirakan total ketersediaan beras nasional sekitar 25 juta ton.
“Totalnya berkisar sekitar 25 juta ton. Sementara kebutuhan kita sekitar 2,5 juta ton per bulan. Artinya, ketersediaan kita sangat kuat. Ini yang membuat kita lebih siap menghadapi berbagai gejolak global,” kata Amran.
Menurut Amran, kemampuan memenuhi kebutuhan pangan sendiri penting ketika konflik atau ketegangan antarnegara dapat mengganggu perdagangan internasional. Ia menyebut swasembada beras tanpa impor sebagai salah satu fondasi ketahanan pangan.
Untuk menjaga produksi, Kementerian Pertanian menjalankan program optimalisasi lahan, pompanisasi, perbaikan irigasi, penyediaan benih unggul, dan peningkatan produktivitas. Amran juga menyebut langkah antisipasi perubahan iklim dan potensi kekeringan.
Amran mengatakan pemerintah akan terus memperkuat produksi dan cadangan pangan serta melindungi petani. Ia mengingatkan agar Indonesia tidak berpuas diri meski kondisi pangan dinilai aman.
Laporan CNNIndonesia.com juga menyebut sedikitnya 33 negara mengimbau warganya menyiapkan kebutuhan dasar untuk menghadapi kemungkinan krisis. Inggris dan Jepang termasuk negara yang menganjurkan persediaan rumah tangga untuk sedikitnya tiga hari.