
KPK Dalami Kontrak Bantalan Rel di Sumatera Selatan
12 menit yang lalu
BI ingin pendalaman pasar uang dan valas berfokus pada peningkatan aktivitas transaksi dan partisipasi pelaku pasar.
Terbit · 2 min read

Menurut laporan ANTARA, Bank Indonesia (BI) mendorong pengembangan pasar uang dan pasar valuta asing (PUVA) beralih dari penguatan fondasi menuju peningkatan aktivitas serta pemanfaatan produk dan infrastruktur pasar.
Gubernur BI Destry Damayanti menegaskan pentingnya percepatan implementasi Blueprint Pendalaman Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing 2030 (BPPU 2030). Pernyataan itu disampaikan dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Rabu (28/10/2026).
“Keberhasilan pendalaman PUVA tidak cukup berhenti pada tersedianya ketentuan dan infrastruktur, tetapi harus tercermin dari peningkatan aktivitas transaksi, perluasan partisipasi pelaku pasar yang kompeten, pembentukan harga yang semakin baik, serta penguatan tata kelola dan integritas pasar,” kata Destry.
Industri didorong semakin aktif menyediakan likuiditas, mengembangkan inovasi, dan mengatasi hambatan implementasi. Menurut laporan yang sama, penguatan sinergi BI bersama Asosiasi Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing Indonesia (APUVINDO) telah dilaksanakan dalam High Level Meeting (HLM) di Jakarta pada Jumat (23/10/2026).
BI menyebut implementasi BPPU 2030 terus diperkuat melalui pengembangan produk, pembentukan harga, peningkatan kapasitas pelaku, dan penguatan infrastruktur pasar keuangan. Capaian strategisnya antara lain pengembangan transaksi repo untuk meningkatkan likuiditas pasar uang, penguatan INDONIA sebagai referensi suku bunga, serta pengembangan instrumen lindung nilai dan transaksi valuta asing.
Memasuki 2027, BI bersama APUVINDO akan mengakselerasi implementasi BPPU 2030 melalui empat prioritas, yakni pengembangan pasar uang, pengembangan pasar valas, penguatan pelaku pasar, dan pengembangan infrastruktur pasar keuangan. Pengembangan pasar uang difokuskan pada penguatan Surat Berharga Komersial (SBK) sebagai alternatif pembiayaan sektor riil, perluasan penggunaan INDONIA pada berbagai produk keuangan, dan peningkatan likuiditas Overnight Index Swap (OIS).
Di pasar valas, BI memperluas akses lindung nilai dan memperkuat konektivitas pasar domestik dengan pasar global. Optimalisasi transaksi lindung nilai melalui bank mitra (VASTRA) diarahkan mempermudah akses investor global, meningkatkan daya tarik aset Rupiah, dan mendukung aliran investasi portofolio berkelanjutan. Penguatan ekosistem Renminbi, termasuk pengembangan Renminbi Clearing Bank, ditujukan meningkatkan likuiditas dan efisiensi transaksi Renminbi-Rupiah serta mendukung transaksi mata uang lokal (LCT) Indonesia–Tiongkok.
Penguatan pelaku pasar difokuskan pada kompetensi, profesionalisme, dan integritas melalui penerapan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI), Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), pengembangan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Tresuri Indonesia, dan penerapan kode etik pasar. APUVINDO didorong berperan lebih besar sebagai organisasi swaregulasi dalam standardisasi praktik dan tata kelola pasar, sedangkan infrastruktur diarahkan pada optimalisasi pihak lawan sentral dan agen repo tiga pihak serta perluasan produk dan partisipan.
Dalam pertemuan yang turut melibatkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi menekankan pentingnya pendalaman pasar keuangan untuk memperkuat sumber pembiayaan pembangunan ekonomi nasional. Menurutnya, pendalaman pasar tidak hanya bertumpu pada volume transaksi dan pengembangan instrumen, tetapi juga memerlukan tata kelola yang baik, integritas pelaku, transparansi, dan kepercayaan pasar. OJK berkomitmen memperkuat sinergi dengan BI, APUVINDO, dan pemangku kepentingan terkait.