
Polsek Pancoran Tangani Dugaan Narkoba Sopir Truk
12 menit yang lalu
Didik mengajak generasi muda menjaga kerendahan hati, jati diri budaya, persatuan, dan pemahaman sejarah.
Terbit · 1 min read

Maestro tari Didik Hadiprayitno, yang dikenal sebagai Didik Nini Thowok, mengingatkan generasi muda agar memegang filosofi napak lemah dan tidak melupakan sejarah serta jati diri budaya lokal. Menurut laporan ANTARA, ia menyampaikan pesan itu di kediamannya di Kota Yogyakarta pada Selasa (27/10/2026).
Didik menjelaskan, napak lemah atau menginjak tanah merupakan simbol kerendahan hati dan pengingat akan asal-usul seseorang. Ia mengatakan, nilai itu penting di tengah arus modernisasi.
“Jangan lupa napak tanah itu kan simbolis sekali. Jadi hidup itu jangan selalu melihat ke atas, sombong yang dilihat yang tinggi-tinggi. Kita itu harus selalu rendah hati. Siapa sih kita ini? Jangan lupa jati diri asal kita,” ujar Didik.
Menurut Didik, generasi penerus perlu menjaga ajaran leluhur dan tradisi di tempat mereka hidup serta mencari penghidupan. Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak terjebak dalam pengotakan identitas berdasarkan suku atau agama.
Didik menilai, karya besar peradaban masa lalu dapat terwujud ketika masyarakat tidak dibatasi sekat-sekat sempit. Ia mencontohkan candi-candi yang tetap kokoh berdiri setelah berusia ratusan tahun.
“Jangan jadi orang yang nyaman dengan dikotak-kotakkan; 'aku suku ini, aku agama ini'. Leluhur kita dulu kan tidak begitu. Kalau berpikiran sempit, tidak akan bisa membuat karya-karya besar seperti candi-candi yang usianya ratusan tahun masih kokoh berdiri,” tuturnya.
Ia mengaitkan pentingnya memahami sejarah dengan semboyan “Jasmerah”, kependekan dari Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah. Menurut Didik, peninggalan dan karya seni masa lampau perlu dipahami latar belakang serta nilai keteladanan orang-orang terdahulu.
Didik, yang menekuni seni tari tradisi dan tari komedi lintas gender, mengatakan konsistensi berkarya perlu disertai riset lapangan dan kemauan untuk terus belajar. Ia menilai ilmu dan pengalaman berkesenian juga perlu dibagikan kepada masyarakat dan generasi penerus, bukan hanya digunakan untuk mengejar gelar formal.