
Kemenhaj Pastikan Situasi Umrah di Arab Saudi Aman
15 menit yang lalu
BI menyatakan tetap memantau rupiah di pasar dan belum berencana mengubah strategi intervensi.
Terbit · 1 min read

Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menegaskan bahwa bank sentral tetap berada di pasar untuk memantau pergerakan nilai tukar rupiah di tengah volatilitas pasar keuangan, menurut laporan ANTARA.
Pernyataan itu disampaikan Destry usai menghadiri Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Senin (26/10/2026).
Ia menerangkan bahwa pergerakan rupiah memang dipengaruhi dinamika permintaan dan penawaran. Karena itu, BI terus mencermati perkembangan nilai tukar sekaligus mengidentifikasi faktor yang memengaruhi pergerakannya.
Destry menyatakan BI tetap ada di pasar dan terus memantau pergerakan rupiah, yang menurutnya bergantung pada permintaan dan penawaran pada hari itu.
Terkait kemungkinan perubahan strategi intervensi untuk meredam gejolak rupiah, Destry menyatakan BI belum merencanakan perubahan. Ia menilai volatilitas yang terjadi masih tergolong dinamika pasar yang biasa dan masih dapat dipantau bank sentral, sembari menelusuri akar penyebabnya.
Menurut laporan yang sama, rupiah tercatat melemah 0,30 persen ke level Rp18.135 per dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan itu terjadi di tengah kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik geopolitik di kawasan Asia Barat atau Timur Tengah.
Mengutip Xinhua, ANTARA melaporkan harga minyak mentah Brent melonjak ke level tertinggi sejak akhir April seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap eskalasi konflik di kawasan tersebut. Brent untuk pengiriman Desember ditutup pada Sabtu (24/10/2026) di level 116,72 dolar AS per barel, naik 3,14 persen.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember ditutup pada 103,27 dolar AS per barel, menguat 3,82 persen.