
Pejabat Turki, Saudi, dan Pakistan Temui Iran
13 menit yang lalu
Bank Indonesia memperkirakan transaksi mata uang lokal mencapai US$55 miliar pada akhir 2026.
Terbit · 1 min read

Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti memperkirakan transaksi Indonesia dengan negara mitra dagang menggunakan mata uang lokal melalui skema transaksi mata uang lokal (LCT) mencapai US$55 miliar pada akhir 2026. Menurut laporan CNBC Indonesia, proyeksi itu disampaikan Destry di Jakarta, Senin (26/10/2026).
Nilai tersebut setara Rp998,08 triliun dengan kurs Rp18.147 per dolar AS. Proyeksi itu sekitar 120 persen lebih tinggi dibandingkan nilai transaksi LCT yang disebut mencapai US$25 miliar pada akhir 2025.
Dalam acara Forum Investasi Inovasi Teknologi Danantara 2026, Destry mengatakan transaksi LCT terutama berasal dari China. Ia juga menyebut perkiraan US$55 miliar pada akhir 2026, dibandingkan sekitar US$25 miliar pada tahun sebelumnya.
Menurut Destry, peningkatan penggunaan LCT dapat membantu mengurangi kebutuhan dolar AS di dalam negeri. Ia mengatakan pendekatan bilateral dilakukan untuk mendukung penggunaan mata uang lokal dan membantu menyeimbangkan nilai tukar.
Destry juga mengaitkan upaya tersebut dengan defisit transaksi berjalan pada kuartal II 2026, yang menurutnya telah melampaui 3 persen dari produk domestik bruto. Ia menyatakan transaksi dengan mata uang lokal dapat membantu memperbaiki kondisi itu.
Menurut laporan yang sama, transaksi LCT hingga Agustus 2026 tercatat sebesar US$49,4 miliar ekuivalen. Laporan itu menyebut nilai tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan realisasi sepanjang 2025 sebesar US$25,7 miliar ekuivalen.
Kerja sama LCT Indonesia telah berjalan dengan tujuh negara mitra: China, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, Uni Emirat Arab, dan Singapura.