
Bima Arya Minta Perpustakaan Bukittinggi Libatkan Komunitas
11 menit yang lalu
Penarikan 15 aset kripto dibuka setelah peretasan; Binance menyatakan telah mengganti sebagian besar aset yang dicuri.
Terbit · 2 min read

Binance kembali membuka layanan penarikan Bitcoin dan sejumlah aset kripto lain pada Minggu (1/11/2026), setelah peretasan yang menyebabkan aset senilai US$6,3 miliar dicuri dari platformnya, menurut laporan CNN Indonesia.
Layanan penarikan tahap pertama mencakup 15 jenis aset, termasuk Bitcoin, Ether, XRP, dan Dogecoin. Binance mengumumkan proses pembukaan dimulai sesaat setelah pukul 06.00 GMT melalui laman status layanannya.
Menurut laporan CNN Indonesia, penarikan aset lainnya akan dibuka bertahap setelah Binance menutup 95 persen kerugian. Perusahaan menyatakan telah mengganti aset senilai US$6 miliar menggunakan dana perusahaan untuk membeli token pengganti.
Binance menyebut sisa 5 persen aset lebih sulit diperoleh karena tidak banyak diperdagangkan. Perusahaan memperkirakan pengadaan aset tersebut memerlukan waktu lebih lama, terutama untuk memenuhi jumlah yang dibutuhkan.
Hingga Jumat (30/10/2026), sekitar US$3 miliar aset yang terdampak telah ditemukan melalui kerja sama dengan mitra industri, menurut Binance. Perusahaan menyatakan akan menanggung dampak keuangan peretasan dan telah menyisihkan sekitar US$6,34 miliar dana internal untuk menutup kerugian.
Dana penggantian mencakup US$1 miliar dari Secure Asset Fund for Users (SAFU), dana cadangan Binance untuk melindungi nasabah jika terjadi pelanggaran keamanan. Dana lainnya berasal dari sebagian Futures Insurance Fund dan kas perusahaan; Co-CEO Binance Yi He mengatakan pada Sabtu (31/10/2026) bahwa separuh dana SAFU akan digunakan dan perusahaan akan mengisinya kembali hingga sekitar US$1 miliar.
Reuters melaporkan pada Minggu (1/11/2026) bahwa FBI menuding unit Korea Utara bernama TraderTraitor bertanggung jawab atas serangan tersebut. FBI menyatakan para anggotanya terpantau mengonversi aset curian menjadi Ether dan memperkirakan aset itu akan mengalami pencucian lebih lanjut; Korea Utara selama bertahun-tahun membantah menggunakan unit siber negara untuk kegiatan semacam itu.
Menurut laporan Reuters, pola serangan yang sebagian besar berlangsung sekitar 20 menit sejak Kamis (29/10/2026) malam memiliki kemiripan dengan serangan besar sebelumnya yang dikaitkan dengan Korea Utara oleh TRM Labs dan Chainalysis. Presiden AS Donald Trump mengatakan pemerintahnya belum yakin Korea Utara terlibat dan menyatakan akan membicarakan hal itu dengan negara tersebut jika keterlibatan itu terbukti.