
PLN Tegaskan Peran Listrik pada HLN ke-81
12 menit yang lalu
Pengamat menilai pengambilalihan Sritex berisiko dan menyarankan Danantara mempertimbangkan investasi di sektor hulu tekstil.
Terbit · 1 min read

Direktur Operasional Danantara Indonesia Dony Oskaria membenarkan bahwa pengambilalihan aset PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) menjadi salah satu opsi untuk membangun BUMN tekstil. Menurut laporan CNNIndonesia.com, ia menyampaikan hal itu di Jakarta pada Senin (26/10/2026).
Dony mengatakan opsi tersebut disiapkan dalam rencana pembangunan pabrik tekstil. Ia menyebut Danantara bermaksud memasuki seluruh rantai pasok, dari sektor hulu hingga hilir.
Menurut Dony, pengembangan industri tekstil diharapkan membuka banyak lapangan kerja dan memanfaatkan pasar yang tersedia. Pernyataan itu disampaikan di sela-sela Danantara Technology Innovation Investment Forum 2026.
Pengamat BUMN sekaligus Direktur Pelaksana Lembaga Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Toto Pranoto, menilai langkah tersebut lebih terkait tanggung jawab sosial. Kepada CNNIndonesia.com pada Selasa (27/10/2026), ia mengatakan penyelamatan industri padat karya dapat menekan pengangguran.
Toto menilai rencana pengambilalihan perlu didahului uji tuntas hukum, keuangan, dan komersial. Pemeriksaan hukum diperlukan untuk mengurangi risiko sengketa, sedangkan penilaian keuangan dapat membantu menentukan pilihan antara mengambil alih atau menyewa aset.
Pengamat BUMN sekaligus Direktur NEXT Indonesia Center Herry Gunawan menilai pengambilalihan Sritex berisiko, meski Danantara dinilai memiliki kapasitas untuk menangani utangnya. Dalam keterangan kepada CNNIndonesia.com pada Selasa (27/10/2026), Herry menyarankan agar rencana itu dipertimbangkan ulang.
Herry menyebut aset Sritex menghadapi persoalan hukum, termasuk penyitaan dan kewajiban melelang aset untuk membayar kewajiban. Ia juga menyoroti reputasi perusahaan, serta mesin pabrik yang menurutnya telah berhenti beroperasi sekitar dua tahun dan memerlukan biaya pemeliharaan.
Menurut Herry, jika Danantara mengambil alih, penyelesaian kewajiban dan sumber pendanaannya perlu dijelaskan secara transparan. Ia menyebut negosiasi pembayaran dengan kreditur sebagai opsi, sementara pembagian kerugian dinilainya sulit karena pengadilan telah menetapkan status pailit.
Herry menyarankan Danantara membangun industri tekstil dari sektor hulu, termasuk penyediaan bahan baku seperti poliester. Ia berpendapat langkah itu dapat mendukung industri domestik yang masih mengimpor bahan baku, sedangkan Indonesia telah menjadi eksportir bersih produk tekstil hilir.