
BEI Kaji Insentif Pajak bagi Emiten
18 menit yang lalu
Ekspor Indonesia mencapai US$27,59 miliar, ditopang pertumbuhan ekspor nonmigas dan industri pengolahan.
Terbit · 1 min read

Nilai ekspor Indonesia pada September 2026 mencapai US$27,59 miliar, naik 11,87% dibandingkan September 2025. Menurut laporan CNBC Indonesia, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyebut kenaikan itu terutama ditopang ekspor nonmigas.
Dalam konferensi pers bulanan BPS pada Senin (2/11/2026), Ateng menyampaikan nilai ekspor nonmigas sebesar US$26,64 miliar. Ekspor migas tercatat US$950 juta.
“Pada September 2026, nilai ekspor mencapai US$27,59 miliar atau naik 11,87% dibandingkan dengan September 2025,” ujar Ateng, menurut laporan yang sama.
Secara tahunan, ekspor migas turun 0,99%, sedangkan ekspor nonmigas tumbuh 12,39%. Kenaikan nonmigas terutama ditopang sejumlah komoditas unggulan.
Ekspor lemak dan minyak hewani/nabati meningkat 89,04% dan menyumbang 8,47% terhadap kenaikan total ekspor. Ekspor tembaga dan barang daripadanya naik 165,97%, dengan andil 1,64%.
Ekspor mesin dan perlengkapan elektrik atau HS 85 tumbuh 24,37% secara tahunan dan berkontribusi 1,61% terhadap kenaikan ekspor. Menurut laporan yang sama, industri pengolahan menjadi penyumbang terbesar ekspor nonmigas.
Industri pengolahan mencatat ekspor US$23,27 miliar, setara 87,36% dari total ekspor nonmigas. Sektor pertambangan dan lainnya menyumbang US$2,86 miliar, sementara pertanian, kehutanan, dan perikanan mencatat US$510 juta.
Secara kumulatif, ekspor Indonesia pada Januari-September 2026 mencapai US$221,23 miliar, naik 5,58% dibanding periode yang sama pada 2025. Tujuan ekspor nonmigas terbesar adalah Tiongkok dengan US$54,17 miliar, disusul Amerika Serikat US$25,39 miliar dan India US$15 miliar; ketiganya mencakup 44,55%.