
DKI Jakarta Kembangkan Aplikasi JAK-Respond
13 menit yang lalu
Gerakan itu mengajak masyarakat menukar dolar, sementara krisis rupiah berlanjut hingga Soeharto mundur pada 1998.
Terbit · 2 min read

Menurut laporan CNBC Indonesia, Siti Hardijanti Rukmana atau Mbak Tutut menggagas Gerakan Cinta Rupiah (Getar) pada Januari 1998, saat krisis moneter mengguncang Indonesia. Gerakan itu mengimbau masyarakat melepas simpanan dolar Amerika Serikat untuk membantu memperkuat rupiah.
Krisis yang terjadi pada 1997-1998 membuat rupiah melemah dari kisaran Rp2.000, ambruk ke level Rp10.000, lalu sempat menyentuh Rp16.000 per dolar AS. Laporan tersebut menyebut krisis bermula setelah depresiasi baht Thailand pada pertengahan 1997, lalu merembet ke mata uang sejumlah negara Asia.
CNBC Indonesia mengutip catatan sejarawan Jan Luiten van Zanden dalam buku Ekonomi Indonesia 1800-2010 (2012) mengenai dampak depresiasi baht tersebut. Gerakan yang dipelopori Tutut itu diberitakan Bali Post pada 16 Januari 1998 dengan kalimat, “Gerakan Cinta Rupiah (Getar) yang dipelopori Ny. Siti Hardianti Rukamana atau Mbak Tutut benar-benar menggetarkan,”.
Sebagai bagian dari aksi tersebut, Tutut menukarkan US$50 ribu dari uang pribadinya ke rupiah. Menurut laporan CNBC Indonesia, sejumlah pejabat dan anggota MPR juga menukarkan dolar mereka di Bank Indonesia.
Arsip Bali Post bertanggal 13 Januari 1998 yang dikutip CNBC Indonesia menyebut Susilo Bambang Yudhoyono, saat itu anggota MPR dari Fraksi ABRI, menukar US$1.300. Menteri Keuangan Mar’ie Muhammad dan Gubernur Bank Indonesia Soedradjad Djiwandono juga tercatat melepas kepemilikan dolar; dana yang dihimpun BI pada gelombang pertama disebut mencapai US$650 ribu.
Laporan yang sama, dengan merujuk Berita Yudha pada 13 Januari 1998, menyebut Aburizal Bakrie, The Ning King, dan Imam Taufik masing-masing menukar US$100 ribu. Sukamdani Sahid Gitosardjono menukarkan US$50.100 dan menyerahkan satu kilogram emas kepada pemerintah, menurut kutipan media tersebut.
Tutut kemudian menyerahkan dua kilogram emas milik pribadinya kepada negara. Materi menyebut gerakan itu menuai kritik karena dinilai simbolis; dana valuta asing yang dihimpun diperkirakan sekitar US$5 juta, sementara kebutuhan devisa dan utang luar negeri Indonesia saat itu mencapai puluhan miliar dolar AS.
Menurut kutipan Bali Post edisi 1 Februari 1998, pengusaha dan politikus Fahmi Idris mencetuskan, “Ini tak akan menyelesaikan masalah.” CNBC Indonesia menyebut krisis berlanjut menjadi krisis sosial-politik dan Soeharto mundur dari jabatan presiden pada 21 Mei 1998.