
Kabut Asap Kembali Selimuti Palangka Raya
14 menit yang lalu
Proyeksi kuartal ketiga ditopang indikator manufaktur, investasi, kredit, dan mobilitas wisatawan.
Terbit · 1 min read

GREAT Institute memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,2–5,4 persen pada kuartal ketiga 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Peneliti GREAT Institute Adhamaski Pangeran menyampaikan proyeksi itu berdasarkan sejumlah indikator ekonomi, menurut laporan ANTARA.
Dalam keterangannya di Jakarta, Adhamaski merujuk pada perkembangan selama Juli hingga September 2026. Indikator tersebut, menurutnya, menunjukkan aktivitas produksi dan permintaan domestik tetap berlangsung.
Dari sisi produksi, indeks manajer pembelian (PMI) Bank Indonesia tercatat 52,28, sedangkan PMI S&P Global mencapai 52,4. ANTARA menyebut kedua angka itu menggambarkan aktivitas manufaktur yang berada di zona ekspansi.
Investasi tumbuh 7,6 persen menjadi Rp528,7 triliun. Pada periode yang sama, kredit investasi tumbuh 23,20 persen dan kredit modal kerja meningkat 11,89 persen.
Adhamaski menyebut perkembangan investasi dan penyaluran kredit sebagai indikator yang mendukung kegiatan ekonomi, termasuk pembiayaan usaha dan pengembangan kapasitas produksi.
Di sektor perjalanan, perjalanan wisatawan nusantara meningkat 9,28 persen, sementara kunjungan wisatawan mancanegara naik 4,63 persen. Menurut laporan yang sama, perkembangan itu memberi gambaran aktivitas ekonomi di sektor pariwisata dan jasa.
Berdasarkan berbagai indikator tersebut, GREAT Institute menilai fundamental ekonomi Indonesia masih menunjukkan ketahanan di tengah dinamika ekonomi global. Adhamaski juga mempertahankan optimisme terhadap pertumbuhan sepanjang 2026.
“Berbagai indikator tersebut menunjukkan fundamental ekonomi Indonesia tetap resilien. Dengan perkembangan ini, GREAT Institute mempertahankan optimisme bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 akan mencapai 5,3–5,6 persen,” kata Adhamaski.