
Longsor Tewaskan Ayah dan Anak di Lumajang
13 menit yang lalu
Harga referensi dan patokan ekspor biji kakao turun pada November 2026 seiring peningkatan stok saat panen di negara produsen utama.
Terbit · 1 min read

Kementerian Perdagangan menyebut harga referensi (HR) dan harga patokan ekspor (HPE) biji kakao turun untuk periode November 2026. Menurut laporan ANTARA, penurunan itu disebabkan peningkatan produksi di negara produsen.
HR biji kakao untuk November 2026 ditetapkan sebesar 5.613,60 dolar AS per MT. Nilainya turun 444,27 dolar AS atau 7,33 persen dibandingkan periode sebelumnya.
HPE biji kakao pada periode yang sama ditetapkan sebesar 5.242 dolar AS per MT. Angka itu turun 444 dolar AS atau 7,81 persen dari periode sebelumnya.
Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Tommy Andana mengatakan perhitungan HR dan HPE mempertimbangkan kondisi pasar, perkembangan biaya logistik internasional, serta dinamika perdagangan dunia. Ia menyebut peningkatan stok terjadi setelah masa panen di negara produsen utama biji kakao, yaitu Afrika Barat.
Dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (31/10/2026), Tommy mengatakan “Terjadi peningkatan stok biji kakao akibat masa panen di negara produksi utama biji kakao, yaitu Afrika Barat, memicu penurunan HR dan HPE biji kakao periode November 2026.”
Menurut laporan yang sama, HPE keping kayu, kayu olahan dengan luas penampang 1.000-4.000 mm2 dari jenis sungkai hutan tanaman, serta kayu olahan khusus jenis merbau dengan luas penampang 4.000-10.000 mm2 tidak berubah. HPE kayu veneer dari hutan alam, kayu lapis untuk lembaran kotak kemasan, serta kayu olahan dengan luas penampang 1.000-4.000 mm2 dari jenis meranti dan sortimen lainnya dari hutan tanaman jenis akasia dan sengon mengalami kenaikan.
HPE getah pinus untuk November 2026 naik menjadi 1.023 dolar AS per MT, bertambah 3 dolar AS atau 0,29 persen dibandingkan periode Oktober 2026.
Sebaliknya, HPE kayu veneer dari hutan tanaman, kayu kering atau pecahan dalam bentuk serpihan atau partikel, kayu olahan dengan luas penampang 1.000-4.000 mm2 dari jenis merbau, serta sortimen lainnya dari jenis eboni dan jati mengalami penurunan. Penurunan juga terjadi pada produk dari hutan tanaman jenis pinus, gmelina, karet, balsa, dan eukaliptus.