
Badri Tegaskan Peringkat Kampus Harus Berdampak
14 menit yang lalu
Surplus perdagangan diperkirakan tetap terjaga hingga akhir 2026, tetapi nilainya berisiko menyusut.
Terbit · 1 min read

Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai Indonesia berpeluang mempertahankan surplus perdagangan hingga akhir 2026, meskipun nilainya diperkirakan lebih rendah daripada tahun lalu. Menurut laporan ANTARA, penilaian itu disampaikan Yusuf saat dihubungi di Jakarta pada Rabu (4/11/2026).
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus perdagangan Indonesia sebesar 10,61 miliar dolar AS selama Januari-September 2026. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, surplus tercatat 33,48 miliar dolar AS.
Laporan yang sama menyebut penyusutan surplus terjadi saat impor tumbuh 19,67 persen secara tahunan menjadi 210,63 miliar dolar AS. Ekspor tumbuh 5,58 persen menjadi 221,23 miliar dolar AS.
Yusuf menilai risiko penyusutan surplus masih cukup besar pada sisa 2026. Ia memperkirakan kenaikan impor pada kuartal IV dapat menambah tekanan terhadap surplus perdagangan.
“Risiko penyusutan masih cukup besar karena pada kuartal IV biasanya impor meningkat, terutama untuk kebutuhan energi dan konsumsi menjelang akhir tahun,” kata Yusuf, menurut laporan ANTARA.
Yusuf juga menilai harga sejumlah komoditas ekspor utama belum memberikan dorongan yang cukup kuat. Kondisi tersebut dapat membatasi kemampuan ekspor untuk mengimbangi kenaikan impor.
Untuk menjaga kinerja perdagangan, Yusuf menilai pemerintah perlu memperkuat ekspor melalui pengembangan manufaktur bernilai tambah, diversifikasi pasar tujuan ekspor, dan peningkatan efisiensi logistik.
Ia juga menyarankan penguatan industri antara dalam negeri, termasuk petrokimia, baja, dan komponen manufaktur. Menurut Yusuf, langkah itu diperlukan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan baku impor tanpa menghambat kebutuhan produksi industri.