
VKTR Turun 30 Persen dalam Sepekan
18 menit yang lalu
Pameran di Yangon mencatat empat kesepakatan pada hari pertama dan menghadirkan 77 peserta.
Terbit · 1 min read

KBRI Yangon mencatat empat nota kesepahaman (MoU) di sektor gas bumi, pelumas, keuangan, pemberdayaan, dan pendidikan pada hari pertama Indonesia Expo 2026. Menurut laporan ANTARA, pameran itu digelar di Yangon, Myanmar, pada Jumat (30/10/2026) hingga Sabtu (31/10/2026).
Keterangan resmi KBRI Yangon menyebut pameran bertema “Bridging Partnerships, Building Prosperity” tersebut menjadi wadah untuk memperkuat perdagangan, investasi, dan kemitraan Indonesia-Myanmar.
Kuasa Usaha Ad Interim Republik Indonesia di Yangon Novan Ivanhoe Saleh menyatakan KBRI berkomitmen memperluas akses pasar, mempertemukan pelaku usaha, dan memperkuat hubungan antarmasyarakat melalui pendidikan.
Empat MoU pada hari pertama ditandatangani Perusahaan Gas Negara (PGN) dengan Real Growth Enterprise untuk sektor gas bumi, serta Pertamina Lubricants dengan Wutt Hmoan untuk bidang pelumas. Kesepakatan lainnya melibatkan uab bank dan Nyarna Empowers di bidang keuangan dan pemberdayaan, serta Indonesian International School Yangon (IISY) dan uab bank di bidang pendidikan.
Indonesia Expo 2026 menghadirkan 77 peserta dan dua forum bisnis. Forum tersebut membahas pemanfaatan gas alam cair untuk energi, industri, dan ritel, serta penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dan ekonomi kreatif.
Pada Sabtu (31/10/2026), pameran dilanjutkan dengan pemaparan sejumlah universitas Indonesia dan penandatanganan MoU antara Universitas Widyatama dan Yangon University of Foreign Languages (YUFL), yang difasilitasi KBRI Yangon. Kerja sama lima tahun itu mencakup pertukaran mahasiswa dan dosen, penelitian bersama, seminar akademik, serta publikasi ilmiah.
KBRI Yangon menyatakan akan mengawal tindak lanjut hasil pertemuan, terutama dalam pengembangan hubungan dagang, kemitraan distribusi, dan kerja sama pendidikan. Data Kementerian Perdagangan yang dikutip ANTARA mencatat perdagangan kedua negara mencapai 958,9 juta dolar AS sepanjang 2025 dan 687,1 juta dolar AS pada Januari-Agustus 2026. Laporan itu menyetarakan nilai tersebut masing-masing dengan sekitar Rp17,38 triliun dan Rp12,45 triliun.