
Layanan Tandu Gunung Merbabu Capai Rp30 Juta
9 menit yang lalu
Industri pengolahan menjadi kontributor terbesar PDB, dengan pertumbuhan yang ditopang permintaan domestik dan luar negeri.
Terbit · 1 min read

Industri pengolahan tumbuh 5,87 persen pada kuartal ketiga 2026 dan menjadi penyumbang terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Menurut laporan CNBC Indonesia, pertumbuhan sektor ini ditopang antara lain oleh ekspor minyak sawit, kimia, dan logam dasar.
Dalam konferensi pers di Kantor Pusat Badan Pusat Statistik (BPS), Jakarta, Kamis (5/11/2026), Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Moh. Edy Mahmud menyampaikan data pertumbuhan tersebut. Ekonomi Indonesia secara keseluruhan tumbuh 5,47 persen secara tahunan pada kuartal yang sama.
“Industri pengolahan tumbuh didorong permintaan domestik dan luar negeri,” kata Edy dalam konferensi pers tersebut.
Sektor industri pengolahan berkontribusi 19,22 persen terhadap PDB. Adapun sektor akomodasi dan makan minum mencatat laju pertumbuhan tertinggi, yakni 11,22 persen, dengan kontribusi 2,75 persen.
Menurut laporan yang sama, subsektor industri makanan dan minuman tumbuh 7,09 persen. Pertumbuhannya ditopang peningkatan ekspor CPKO dan produk turunan CPO, serta pemanfaatan CPO di dalam negeri untuk produksi biodiesel.
Industri kimia, farmasi, dan obat tradisional tumbuh 8,10 persen. Menurut laporan yang sama, kenaikan produksi FAME seiring pemberlakuan mandatori biodiesel B50 sejak 1 Juli 2026, serta peningkatan produksi pupuk menjelang musim tanam, menjadi pendorongnya.
Industri logam dasar tumbuh 9,94 persen. Kenaikan ekspor logam dasar bukan besi dan baja, termasuk katoda tembaga, matte nikel, dan aluminium, menjadi salah satu pendorong pertumbuhan subsektor tersebut.