
China Paparkan Skema Pendaratan Berawak di Bulan
14 menit yang lalu
Bapanas mengaitkan inflasi beras yang lebih stabil dengan stok pemerintah dan penyaluran bantuan serta beras stabilisasi.
Terbit · 1 min read

Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyatakan inflasi beras tahunan pada September 2026 tercatat 3,73 persen, terendah dalam empat tahun terakhir. Menurut laporan ANTARA, Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengaitkan capaian itu dengan penguatan stok beras pemerintah dan penyaluran beras kepada masyarakat.
Amran menyampaikan keterangan tersebut di Jakarta pada Minggu (1/11/2026). Ia mengatakan pemerintah tidak mengimpor beras medium, tetapi mendatangkan beras khusus yang belum diproduksi di dalam negeri.
“Kita tidak ada impor beras medium, yang ada selundupan dan sudah ditangkap. Impor hanya beras khusus karena tidak ditanam, misalnya Basmati. Jumlahnya kecil sekali,” kata Amran, seperti dikutip ANTARA.
Menurut data historis Badan Pusat Statistik yang disampaikan dalam laporan yang sama, inflasi beras tahunan pada September 2023 mencapai 18,44 persen. Angka itu disebut antara lain dipengaruhi fenomena El Nino yang mulai melanda Indonesia.
Inflasi beras kemudian tercatat 5,91 persen pada September 2024 dan 4,06 persen pada September 2025. Pada September 2026, angkanya berada di level 3,73 persen.
Amran menyebut stok beras pemerintah yang mencapai 4,5 juta ton memberi ruang lebih besar untuk intervensi pasar. Menurut laporan yang sama, penyaluran Cadangan Beras Pemerintah (CBP) melalui Perum Bulog sejak Januari hingga 28 Oktober 2026 mencapai 2,88 juta ton.
Dari jumlah itu, 1,63 juta ton merupakan realisasi bantuan pangan beras. Tahap pertama bantuan mencapai 662,86 ribu ton, sedangkan tahap kedua yang telah selesai mencapai 967,51 ribu ton; program tersebut menyasar 33,24 juta keluarga penerima manfaat.
Penyaluran melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) beras hingga Oktober mencapai 1,16 juta ton. Amran memperkirakan total penyaluran CBP hingga akhir 2026 dapat mendekati empat juta ton, melampaui rekor sebelumnya pada 2024 sebesar 3,37 juta ton. Ia mengatakan, “Ketika harga beras di tingkat konsumen mulai stabil, maka tingkat inflasi pun juga akan dapat lebih terkendali,” menurut laporan ANTARA.