
Pemkot Malang Minta Polisi Selidiki Kebakaran TPA
9 menit yang lalu
Dolar AS dinilai kehilangan daya tarik sebagai aset aman, sementara yen dan franc Swiss diburu investor.
Terbit · 2 min read

Menurut laporan CNBC Indonesia, dolar Amerika Serikat (AS) mulai kehilangan daya tarik sebagai tempat berlindung ketika pasar bergejolak. Yen Jepang dan franc Swiss justru menjadi pilihan investor yang mencari perlindungan.
Dalam riset tertanggal Jumat (23/10/2026), ING menilai kekhawatiran terhadap kecerdasan buatan (AI) dan kenaikan harga minyak menekan saham global. Namun, dolar tidak menjadi penerima manfaat utama dari peralihan investor menuju aset defensif.
Menurut laporan yang sama, kajian Bank Sentral Eropa (ECB) yang diterbitkan pada Juni 2026 menjelaskan bahwa mata uang aman menjadi tempat berlindung karena mampu mempertahankan nilai atau menguat saat pasar tertekan. Secara historis, dolar, franc Swiss, dan yen termasuk kelompok itu, tetapi respons tiap mata uang dapat berbeda bergantung pada sumber guncangan.
ECB menemukan sejumlah episode pada 2025 hingga awal 2026 ketika ketidakpastian yang berasal dari AS justru disertai pelemahan dolar. Pada saat yang sama, euro, yen, dan franc Swiss menguat, sehingga asal persoalan ikut menentukan ke mana investor mencari perlindungan.
ING mencatat imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) tenor 10 tahun turun ke bawah 5 persen untuk pertama kalinya dalam sebulan. Tingkat swap SOFR dua tahun juga turun 15 basis poin menjadi 4,50 persen.
Menurut ING, gejolak saham mengurangi keyakinan pasar terhadap pengetatan moneter agresif oleh Federal Reserve. Meski demikian, ekspektasi kenaikan bunga pada Desember masih berpotensi membatasi pelemahan dolar lebih lanjut. Menurut laporan CNBC Indonesia, pembelian obligasi pemerintah AS tidak sama dengan penguatan kurs dolar.
Di Eropa, ING menyoroti selisih imbal hasil obligasi Prancis dan Jerman tenor 10 tahun yang ditutup pada 174 basis poin, dengan tekanan pasar obligasi Prancis berisiko kembali membebani euro. Peso Meksiko melemah hampir 8 persen terhadap dolar sejak awal September, yang dikaitkan ING dengan sikap bank sentral Meksiko yang tidak berencana otomatis mengikuti kenaikan bunga Federal Reserve.
Laporan tersebut menegaskan bahwa berkurangnya daya tarik dolar dalam satu episode gejolak pasar tidak otomatis berarti posisinya dalam sistem keuangan dunia telah tergantikan. Catatan peneliti Federal Reserve yang diterbitkan pada Juli 2026 menyebut dolar masih memegang peran utama dalam transaksi valuta asing, pembayaran lintas negara, cadangan devisa resmi, serta denominasi utang dan pinjaman internasional.
Posisi itu ditopang oleh besarnya ekonomi AS serta kedalaman dan likuiditas pasar keuangannya. Karena itu, pilihan investor untuk berlindung dalam jangka pendek perlu dibedakan dari penggunaan dolar dalam perdagangan dan pembiayaan global.