
Polres Rejang Lebong Ungkap Penimbunan Biosolar
14 menit yang lalu
Praktisi menilai Temon strategis menggerakkan ekonomi Kulon Progo lewat pariwisata di sekitar bandara YIA.
Terbit · 2 min read

Menurut laporan ANTARA, Praktisi Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta Kus Endarto menilai Kapanewon Temon di Kabupaten Kulon Progo memiliki posisi strategis sebagai motor penggerak ekonomi daerah melalui sektor pariwisata. Posisi itu didukung kehadiran Yogyakarta International Airport (YIA) sebagai magnet arus manusia dan investasi.
Kus Endarto menyampaikan hal tersebut di Kulon Progo, DIY, Minggu (25/10/2026). Menurut dia, kunci keberhasilan pembangunan ekonomi Kulon Progo terletak pada kemampuan daerah mengoptimalkan potensi YIA, sehingga penumpang yang datang menjadi wisatawan yang singgah, menginap, dan berbelanja.
Ia menyebut Kulon Progo memiliki keunggulan komparatif yang beragam, mulai dari lanskap Perbukitan Menoreh hingga kawasan pesisir pantai. Basis pertanian, pangan lokal, dan identitas perdesaan Menoreh juga dinilai menjadi modal kuat untuk menghadirkan variasi pengalaman wisata dalam satu wilayah.
Menurut laporan yang sama, pengembangan pariwisata Kulon Progo difokuskan pada sejumlah indikator kinerja utama. Indikator itu meliputi peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sektor pariwisata, jumlah kunjungan, lama tinggal, belanja wisatawan, penyerapan tenaga kerja, dan peningkatan investasi.
Berdasarkan arah RPJPD Kulon Progo 2025–2045, koridor prioritas utama pengembangan pariwisata meliputi Temon, Kokap, Girimulyo, dan Samigaluh, yang kemudian diperkuat oleh Nanggulan dan Kalibawang. "Dari kawasan tersebut, Kapanewon Temon ditempatkan sebagai fokus prioritas utama dalam lima tahun mendatang," katanya.
Kawasan Temon dinilai sangat potensial karena lokasinya melekat dengan bandara YIA, aksesibilitasnya memadai, dan berdekatan dengan destinasi wisata pantai. Karena itu, pengembangannya difokuskan pada wisata industri MICE (pertemuan, insentif, konferensi, dan pameran).
Kus Endarto juga menyoroti tantangan di kawasan tersebut. Tiga hotel besar telah beroperasi di Kapanewon Temon, yaitu Hotel Morazen, Hotel Novotel, dan Hotel Ibis, tetapi tingkat keterisiannya diakui masih sangat minimalis.
Untuk mengatasinya, ia menekankan perlunya magnet khusus agar wisatawan sengaja datang ke Kulon Progo, bukan sekadar melintas. Salah satu usulan strategis yang didorong adalah pembangunan kompleks arena indoor multifungsi bertaraf internasional di dekat kawasan YIA, dengan peran dan konsep serupa Indonesia Arena di kompleks GBK Jakarta.
Berdasarkan rancangan konsep kawasan Arena YIA di Kebonrejo, Temon, fasilitas itu disiapkan di atas lahan konseptual kurang lebih 10 hektare dengan kapasitas sekitar 8.000 penonton. Kawasan tersebut akan dilengkapi arena indoor berukuran sekitar 120 x 100 meter, plaza UMKM, gedung parkir empat lantai, serta area hijau dan kolam retensi.
Fasilitas pendukung lain meliputi plaza dan air mancur, jalur joging, masjid dua lantai, area bongkar muat, area parkir VIP/VVIP bawah tanah, serta usulan tempat pendaratan helikopter di atap. Kus Endarto berharap langkah ini dapat merealisasikan konsep YIA sebagai pendorong utama pertumbuhan ekonomi dan pariwisata Kulon Progo secara berkelanjutan.