
Pemilik Toko di Semboro Dirampok
16 menit yang lalu
Pemprov DKI menyatakan kesiapan memfasilitasi investasi dan kerja sama usaha dari Hangzhou.
Terbit · 1 min read

Sekretaris Daerah DKI Jakarta Uus Kuswanto menyatakan Pemerintah Provinsi DKI siap menyambut dan memfasilitasi investasi pengusaha asal Hangzhou, China. Menurut laporan ANTARA, Uus menyampaikan hal itu dalam jamuan pendirian Kamar Dagang Hangzhou di Indonesia di Jakarta, Kamis (5/11/2026) malam.
Uus menyebut Jakarta memiliki posisi strategis sebagai pusat bisnis dan pintu gerbang investasi serta perdagangan nasional. Ia menyampaikan hal tersebut dalam acara yang digelar untuk pendirian kamar dagang itu.
Ia menilai Hangzhou memiliki keunggulan dalam teknologi, ekonomi digital, dan industri inovatif. Menurut Uus, potensi tersebut dapat melengkapi kekuatan Jakarta.
Uus mengatakan Pemprov DKI terus mengembangkan iklim investasi, mempermudah kegiatan usaha, serta mendorong kolaborasi pemerintah dan perusahaan untuk memfasilitasi investasi asing, termasuk dari Hangzhou.
Ia berharap kesepakatan perusahaan Jakarta dan Hangzhou dapat mencakup perdagangan, teknologi digital, industri kreatif, dan sektor ekonomi lain. Uus juga menyatakan optimistis investasi dari Hangzhou melalui Jakarta dapat mendorong kinerja ekonomi nasional dan kerja sama bilateral.
Ketua Kamar Dagang Hangzhou di Indonesia Ya Daifeng berharap perusahaan Hangzhou memiliki keunggulan di bidang ekonomi digital, manufaktur cerdas, dan industri kreatif. Ia menyatakan kamar dagang itu berkomitmen menjadi penghubung antara kekuatan industri dan kewirausahaan Hangzhou dengan peluang pasar Indonesia.
Uus menyampaikan ucapan selamat atas pendirian kamar dagang tersebut. Ia berharap organisasi itu dapat mempertemukan pelaku usaha, memperluas jaringan perdagangan dan investasi, serta membuka peluang kerja sama antara kedua negara.
ANTARA mengutip data Badan Pusat Statistik yang mencatat ekspor nonmigas Indonesia ke China sebesar 54,17 miliar dolar AS selama Januari-September 2026. Impor Indonesia dari China pada periode yang sama tercatat 76,16 miliar dolar AS; perdagangan kedua negara antara lain didominasi nikel, minyak nabati, mesin dan peralatan elektronik, serta plastik.