
Ujang Sumarwan Dorong Pakaian Tak Jadi Limbah
14 menit yang lalu
Penyesuaian belanja dapat membantu keluarga mengelola keuangan, tetapi juga berisiko menekan konsumsi jika dipicu keterpaksaan.
Terbit · 2 min read

Pakar perilaku konsumen IPB University, Prof. Megawati Simanjuntak, menjelaskan fenomena penurunan gaya hidup di kalangan kelas menengah. Menurut laporan ANTARA, fenomena ini ditandai dengan pengurangan pengeluaran, pemilihan produk yang lebih murah, dan penundaan kebutuhan yang tidak mendesak.
Dalam keterangannya di Bogor, Jawa Barat, Rabu, Megawati mengatakan penyesuaian tersebut dalam kajian ilmu keluarga dan konsumen disebut strategi koping, yaitu cara keluarga menyesuaikan diri agar tetap bertahan. Langkahnya antara lain berhemat, mengganti produk dengan pilihan lebih murah, atau mencari penghasilan tambahan.
Fenomena tersebut ramai dibicarakan di media sosial. Megawati menilai, hal yang menonjol adalah penyesuaian gaya hidup kini banyak dilakukan kelompok kelas menengah yang selama ini dianggap relatif aman secara ekonomi, serta semakin terbuka dibagikan sebagai konten.
Menurut laporan yang sama, Megawati menilai sebagian besar penurunan gaya hidup di kalangan kelas menengah saat ini cenderung dipicu keterpaksaan. Pendapatan yang tidak banyak bertambah, kenaikan harga kebutuhan sehari-hari, dan kewajiban cicilan disebut mempersempit ruang keuangan keluarga.
Ia mengatakan penghematan yang tampak serupa dapat memiliki latar berbeda. Jika dilakukan atas kesadaran mengelola keuangan, perilaku ini dapat mengurangi tekanan gengsi berbelanja; tetapi jika terjadi karena daya tahan keuangan keluarga menipis, hal tersebut menjadi sinyal yang perlu diwaspadai.
Megawati juga menyebut kelas menengah umumnya tidak banyak tersentuh bantuan sosial sehingga sebagian berisiko menjadi lebih rentan. Informasi mengenai pemutusan hubungan kerja dan sulitnya memperoleh pekerjaan turut berperan dalam keputusan masyarakat menahan pengeluaran untuk membangun cadangan keuangan.
Menurut laporan yang sama, Megawati menyebut fenomena ini berpotensi berdampak pada restoran, kafe, pusat perbelanjaan, fesyen, pariwisata, hiburan, otomotif, dan properti. Dampaknya berpotensi dirasakan usaha besar maupun usaha kecil dan menengah yang menyerap banyak tenaga kerja.
Megawati menjelaskan penurunan belanja dapat menekan pendapatan pekerja di sektor terkait, lalu mendorong rumah tangga kembali mengurangi pengeluaran. Dalam jangka pendek, penyesuaian gaya hidup dapat mendorong konsumen beralih ke produk dan usaha lokal yang lebih terjangkau serta membantu memperbaiki tabungan, tetapi jika berlangsung lama karena keterpaksaan dapat melemahkan konsumsi nasional; ia menilai daya beli dan kesempatan kerja yang baik tetap penting.