
Rodri Diperkirakan Absen Sebulan karena Cedera
16 menit yang lalu
Eliza Mardian menilai distribusi perlu diperkuat agar harga terjangkau dan pendapatan petani tetap terlindungi.
Terbit · 2 min read

Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Eliza Mardian menilai penguatan distribusi cabai diperlukan untuk menjaga keterjangkauan harga bagi konsumen sekaligus melindungi pendapatan petani. Menurut laporan ANTARA, ia mendorong pemerintah mempercepat penyaluran dari daerah surplus ke wilayah yang kekurangan pasokan, memperkuat pemantauan harga, dan memperluas jangkauan intervensi pasar.
Eliza menyampaikan pandangannya kepada ANTARA di Jakarta, Rabu (4/11/2026). Ia mengatakan Gerakan Pangan Murah (GPM) membantu masyarakat memperoleh bahan pangan dengan harga lebih terjangkau, tetapi pelaksanaannya yang terbatas pada lokasi dan waktu tertentu belum mengatasi persoalan pasokan secara menyeluruh.
“Gerakan Pangan Murah (GPM) dan fasilitasi distribusi lebih bersifat meredakan gejala di titik tertentu,” kata Eliza. Ia menjelaskan kenaikan harga cabai dipengaruhi gangguan produksi akibat cuaca, konsentrasi sentra pertanian, biaya logistik, serta kehilangan hasil pascapanen.
Badan Pusat Statistik mencatat cabai merah dan cabai rawit menjadi penyumbang utama inflasi Oktober 2026 yang mencapai 0,22 persen secara bulanan. Cabai merah menyumbang 0,13 poin persentase, sementara cabai rawit menyumbang 0,05 poin persentase.
Pada Rabu (4/11/2026) pukul 10.30 WIB, Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional yang dikelola Bank Indonesia mencatat harga rata-rata eceran cabai rawit merah Rp86.900 per kilogram dan cabai merah keriting Rp83.050 per kilogram. Angka tersebut di atas batas atas Harga Acuan Penjualan tingkat konsumen, masing-masing Rp57.000 dan Rp55.000 per kilogram.
Badan Pangan Nasional memperkuat GPM dan Fasilitasi Distribusi Pangan untuk menyalurkan komoditas dari daerah surplus ke wilayah yang mengalami tekanan harga. Selama Oktober 2026, badan tersebut mencatat 1.595 kegiatan GPM di 38 provinsi dan realisasi fasilitasi distribusi lebih dari 22,2 ton berbagai komoditas, termasuk cabai rawit merah.
Eliza menilai fasilitasi distribusi perlu dipercepat dengan menekan biaya angkutan serta memperkuat informasi harga dan pasokan antardaerah secara waktu nyata. “Fasilitasi distribusi membantu menghubungkan surplus-defisit,” ujarnya, seraya menyarankan pemerintah membedakan wilayah yang kekurangan produksi dari wilayah yang terkendala distribusi.
Ia juga mendorong perluasan GPM di daerah berharga tinggi, peningkatan volume komoditas yang disalurkan, dan pemantauan dampaknya terhadap harga di pasar umum. Untuk menjaga pendapatan petani ketika panen serentak, Eliza menyarankan penguatan kelompok tani dan koperasi, pengolahan serta penyimpanan cabai, dan pengaturan pola tanam; menurutnya, stabilisasi perlu menyeimbangkan harga konsumen dengan pendapatan petani.