
Ombudsman Tekankan Standar Layanan Publik
13 menit yang lalu
Dua naskah yang diajukan merekam sejarah Bima serta perlawanan Bali dan Lombok terhadap kolonial Belanda.
Terbit · 1 min read

Menurut laporan ANTARA, Perpustakaan Nasional (Perpusnas) mengajukan dua naskah kuno Nusantara sebagai nominasi UNESCO Memory of the World Committee for Asia and the Pacific (MoWCAP) 2026.
Kedua naskah itu dipresentasikan dalam Pertemuan Umum Ke-11 MoWCAP di Jakarta pada Rabu (4/11/2026). Pertemuan tersebut diselenggarakan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).
Naskah pertama adalah Bo’ Sangaji Kai: Catatan Kerajaan Bima, Saksi Erupsi Tambora 1815. Ketua Yayasan Museum Kebudayaan Samparaja Bima, Dewi Ratna Muchlisa Mandyara, menjelaskan naskah itu mencatat sejarah dan kebudayaan Kerajaan Bima dari abad ke-17 hingga abad ke-19.
Menurut laporan yang sama, naskah Bo’ Sangaji Kai juga merekam erupsi Gunung Tambora pada 1815, kehidupan sosial masyarakat Bima, hubungan antarkerajaan, dan tradisi Hanta Ua Pua.
Naskah kedua, Kidung Bhuwana Wināśa, merupakan puisi tradisional Bali yang mencatat diplomasi, konflik, dan perlawanan masyarakat Bali serta Lombok terhadap kolonial Belanda. Penjelasan itu disampaikan Pelaksana Tugas Kepala Pusat Jasa Informasi Perpustakaan dan Pengelolaan Naskah Nusantara Perpusnas, Aditia Gunawan.
Kidung Bhuwana Wināśa ditulis Ida Pedanda Ngurah pada 1918. Naskah itu terdiri atas 55 lempir daun lontar dan 383 bait dalam empat pupuh, serta mencatat keterlibatan perempuan Bali dalam Puputan Badung pada 1906 dan Puputan Klungkung pada 1908.
Pengajuan kedua naskah dilakukan melalui kolaborasi Perpusnas dengan sejumlah lembaga kebudayaan dan pemerintah daerah, termasuk Yayasan Museum Samparaja Bima dan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Perpusnas berharap nominasi tersebut membuat warisan dokumenter Nusantara lebih dikenal dan memperoleh pengakuan sebagai bagian dari ingatan kolektif kawasan Asia Pasifik.