
PT PAL Buka Peluang Investasi Perkapalan
13 menit yang lalu
Program ini mengolah limbah desa menjadi biomassa untuk pembangkit listrik sekaligus membuka peluang ekonomi bagi warga.
Terbit · 1 min read

PT PLN Indonesia Power dan Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal meluncurkan program pemanfaatan biomassa sebagai campuran bahan bakar pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Menurut laporan ANTARA, peluncuran berlangsung di Serang, Banten, Sabtu (31/10/2026), dan melibatkan partisipasi masyarakat desa.
Direktur Utama PLN Energi Primer Indonesia Rakhmad Dewanto menyampaikan hal itu kepada awak media di Serang. Laporan ANTARA menyebut ia mengaitkan program tersebut dengan upaya menekan emisi dan menggerakkan perekonomian warga desa.
Dewanto mengatakan limbah pertanian yang tersedia di desa, seperti sekam padi, jerami, tongkol jagung, dan cangkang sawit, akan diolah menjadi biomassa. Bahan itu akan dicampurkan dengan batu bara melalui mekanisme pembakaran bersama.
Menurut Dewanto, PLN memproyeksikan penggunaan biomassa untuk menggantikan sebagian bahan bakar fosil. Ia menyatakan PLN merencanakan penggantian sekitar 2,4 juta ton batu bara dengan biomassa pada tahun ini dan menyebutnya setara dengan pengurangan emisi 2,4 juta ton karbon dioksida.
Pengolahan limbah itu juga ditujukan untuk memberi nilai tambah ekonomi kepada masyarakat pedesaan yang memasok bahan baku. Dewanto mengatakan program akan dikembangkan bertahap, dimulai di tiga lokasi pada tahun pertama, lalu enam lokasi pada tahun berikutnya dan sepuluh lokasi pada tahap selanjutnya.
Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto menyatakan dukungannya terhadap pemanfaatan limbah pertanian dan industri sebagai biomassa pembangkit listrik. Menurut Yandri, langkah tersebut merupakan upaya mendorong pemerataan ekonomi dari desa.
Yandri menilai penyerapan biomassa dari kawasan pedesaan sejalan dengan Astacita keenam Presiden Prabowo Subianto, yang berfokus pada pembangunan dari desa dan pemerataan ekonomi. Ia menyebut pasokan biomassa dari desa dapat menjadi sumber ekonomi baru.
Yandri mengatakan kepastian penyerapan bahan baku berpotensi mendorong kegiatan ekonomi, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan pendapatan warga. Ia juga menyebut lingkungan yang lebih bersih sebagai salah satu dampak yang diharapkan dari program tersebut.