
Pemuda dan OIKN Tanam 1.000 Pohon di Bukit Soeharto
12 menit yang lalu
Buletin WMO mengumumkan peningkatan konsentrasi gas rumah kaca yang belum pernah terjadi sebelumnya pada 2025.
Terbit · 1 min read

Buletin terbaru Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) PBB mengumumkan peningkatan konsentrasi gas rumah kaca yang belum pernah terjadi sebelumnya pada 2025. Menurut laporan CNBC Indonesia, konsentrasi rata-rata permukaan karbon dioksida (CO2) mencapai 426,8 bagian per juta (ppm), metana 1.948 bagian per miliar, dan dinitrogen oksida 339,1 bagian per miliar.
Angka tersebut setara dengan 153 persen, 267 persen, dan 126 persen dari tingkat praindustri sebelum 1750.
Wakil Sekretaris Jenderal WMO Ko Barrett mengatakan, “Satu tahun lagi, satu rekor baru,” dikutip dari France 24, Sabtu (31/10/2026). Ia menyebut gas rumah kaca memerangkap panas dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya di atmosfer.
Menurut Barrett, panas yang terperangkap menyediakan energi bagi cuaca ekstrem dan meningkatkan risiko bagi perekonomian serta masyarakat. Tren kenaikan suhu selama 11 tahun terakhir kemungkinan besar akan berlanjut.
Konsentrasi rata-rata global CO2 naik 2,8 ppm dari 2024 ke 2025, lebih rendah daripada kenaikan 3,6 ppm pada tahun sebelumnya. Pejabat ilmiah senior WMO Oksana Tarasova mengatakan perubahan itu mencerminkan pemulihan penyerapan karbon di darat dan berkurangnya emisi dari kebakaran hutan pada 2025, setelah periode El Niño kuat tahun 2023-2024.
Meski begitu, kenaikan pada 2024-2025 tetap didominasi pembakaran bahan bakar fosil. Tarasova mengatakan, “Peningkatan tahunan sebesar 2,8 ppm masih menjadi penambahan karbon yang signifikan ke atmosfer akibat pembakaran bahan bakar fosil.”
Metana memiliki masa hidup lebih pendek dibandingkan CO2 dan menyumbangkan 16 persen dari efek pemanasan iklim akibat gas rumah kaca. Sepertiga metana yang dilepaskan berasal dari sumber alami, seperti lahan basah, sedangkan sisanya berasal dari sumber antropogenik, termasuk peternakan, pertanian padi, tempat pembuangan sampah, dan pembakaran biomassa.