
Patra Logistik Perluas Distribusi Energi
16 menit yang lalu
PLN EPI menargetkan peningkatan pemanfaatan biomassa dan mengusulkan alokasi 30 persen untuk kebutuhan domestik.
Terbit · 2 min read

PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) menargetkan pemanfaatan biomassa untuk bahan bakar pembangkit listrik hingga 10 juta ton per tahun. Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir menyebut target itu juga berpeluang membuka 150 ribu lapangan kerja hijau, menurut laporan ANTARA.
Hokkop menyampaikan keterangannya di Jakarta pada Sabtu. Dalam laporan tersebut, ANTARA menyebut realisasi pemanfaatan biomassa hingga 26 Oktober 2026 mencapai 1,842 juta ton.
Hokkop menjelaskan peningkatan pemanfaatan biomassa merupakan bagian dari strategi untuk mempercepat transisi energi dan mengurangi ketergantungan terhadap batu bara. Pemanfaatan limbah pertanian, perkebunan, dan kehutanan juga ditujukan untuk menciptakan nilai tambah ekonomi.
Menurut Hokkop, tingkat pemanfaatan biomassa yang didorong PLN EPI berbeda berdasarkan teknologi pembangkit. Perusahaan menargetkan hingga 10 persen untuk PLTU berteknologi PC, di atas 25 persen untuk CFB, dan di atas 70 persen untuk stoker.
"Kalau kita hitung berdasarkan teknologi pembangkit, untuk PLTU dengan teknologi PC kita dorong pemanfaatan biomassa hingga 10 persen, CFB di atas 25 persen dan stoker di atas 70 persen. Jika seluruh potensi itu dikalkulasikan, kebutuhan biomassa PLN bisa mencapai sekitar 8 juta –10 juta ton," ujar Hokkop dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Sabtu.
Program pembakaran bersama biomassa mulai diterapkan pada 2020 dan pada 2025 telah berjalan di 52 PLTU, dengan pemanfaatan biomassa sebanyak 2,352 juta ton. Volume tahunannya meningkat dari 9.728 ton pada 2020 menjadi 282.581 ton pada 2021, 585.663 ton pada 2022, dan 1,006 juta ton pada 2023.
Pemanfaatan biomassa kemudian mencapai 1,624 juta ton pada 2024 dan 2,352 juta ton pada 2025. Hingga Oktober 2026, jumlah jenis biomassa yang dimanfaatkan secara berkelanjutan naik dari tiga jenis pada 2020 menjadi 18 jenis, sementara rata-rata nilai kalornya meningkat dari 2.520 menjadi 3.440 kilokalori per kilogram.
PLN EPI mengidentifikasi sekitar 70 jenis biomassa yang pernah diuji atau dimanfaatkan, dengan 18 jenis memasok pembangkit secara berkelanjutan. PLN EPI juga mendorong penguatan kualitas biomassa serta pengolahan menjadi pelet kayu dan serpihan kayu agar bahan bakar sesuai dengan kebutuhan teknologi pembangkit. Pengembangan pasokan masih menghadapi persaingan pasar ekspor, keterbatasan fasilitas pengolahan, biaya logistik, serta rantai pasok yang belum terintegrasi.
Untuk mengatasi tantangan pasokan, PLN EPI mendorong penguatan kebijakan yang memprioritaskan biomassa bagi kebutuhan energi domestik. Hokkop mengusulkan sekitar 30 persen dari potensi biomassa yang dapat dimanfaatkan dialokasikan untuk dalam negeri; ia menilai usulan itu dapat membantu kepastian pasokan dan mendukung target pemanfaatan hingga sekitar 10 juta ton.