
PLN EPI Targetkan Pemanfaatan Biomassa 10 Juta Ton
15 menit yang lalu
Yasonna menilai pragmatisme dalam pemilihan calon dapat mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap partai.
Terbit · 1 min read

Ketua Badan Pengkajian MPR RI Yasonna Laoly menilai sikap pragmatis elite partai turut berkaitan dengan tingginya ketidakpuasan masyarakat terhadap partai politik. Ia mengatakan partai perlu menjadikan cara memilih calon sebagai bahan evaluasi, menurut laporan ANTARA.
Pernyataan itu disampaikan setelah Yasonna memimpin diskusi kelompok Badan Pengkajian MPR di Tangerang Selatan, Banten, Jumat (6/11/2026). Diskusi tersebut membahas kedaulatan rakyat dalam perspektif Demokrasi Pancasila.
Yasonna mengatakan partai menghadapi tuntutan untuk melewati ambang batas parlemen agar dapat bertahan di DPR. Menurut dia, kondisi itu mendorong partai mencari calon yang dapat mengumpulkan suara dan memiliki kemampuan finansial untuk membiayai ongkos politik.
Ia menilai pemilihan calon anggota DPR, presiden, dan kepala daerah yang mengutamakan pertimbangan tersebut tidak baik. Yasonna mengatakan kedaulatan rakyat berlanjut setelah pemilu dan masyarakat tetap menjadi pemilih pada pemilu berikutnya.
Menurut Yasonna, kepercayaan kepada partai dapat berkurang ketika masyarakat merasa aspirasinya tidak tersalurkan melalui lembaga perwakilan maupun elite politik. Ia juga menyebut adanya gagasan untuk kembali ke sistem pemilu tertutup atau menerapkan sistem campuran sebagai cara membatasi pragmatisme dalam menentukan calon.
Yasonna menyampaikan pula usulan agar calon anggota DPR dan kepala daerah menjadi kader partai selama jangka waktu tertentu serta mengikuti kaderisasi. Menurutnya, persyaratan itu dapat memperjelas tanggung jawab partai dalam menentukan calon dan memberi pemilih dasar untuk menilai kinerja mereka pada pemilu berikutnya.
Peneliti Litbang Kompas Yohan Wahyu Irianto mengatakan 56,4 persen responden menilai partai belum menjadi saluran aspirasi, sedangkan 37,8 persen percaya partai dapat menjalankan peran tersebut. Ia tidak merinci dalam keterangan yang dikutip laporan ANTARA waktu dan metode survei itu.
Yohan juga mengatakan 64,7 persen responden setuju partai mengusung kadernya sendiri. Ia menilai penguatan partai diperlukan agar kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan partai menyalurkan aspirasi meningkat.