
Kadis PMD Minahasa Larang Pungutan Liar
15 menit yang lalu
Pendapatan dan laba operasi Alphabet tumbuh, tetapi belanja AI dan tekanan arus kas membebani kinerja.
Terbit · 2 min read

Saham Alphabet, induk usaha Google, turun setelah laporan keuangan kuartal ketiga 2026 menunjukkan lonjakan belanja kecerdasan buatan (AI) dan tantangan monetisasi layanan pencarian berbasis AI. Menurut laporan CNBC Indonesia, saham kelas A Alphabet berkode GOOGL ditutup turun sekitar 12,6% menjadi US$283,82 pada Kamis (29/10/2026) waktu Amerika Serikat, sehari setelah laporan dirilis.
Laporan itu menyebut Yahoo Finance menghitung kapitalisasi pasar Alphabet sempat menyusut sekitar US$524 miliar atau Rp9.505,36 triliun pada titik terendah perdagangan. Nilai penurunan tersebut berubah mengikuti pergerakan harga saham sepanjang sesi.
Pendapatan Alphabet pada kuartal ketiga mencapai US$127,58 miliar, naik dari US$102,35 miliar setahun sebelumnya, tetapi sedikit di bawah konsensus analis FactSet sebesar US$127,96 miliar hingga US$127,97 miliar. Laba per saham dilusian tercatat US$2,12, di bawah perkiraan sekitar US$3,01 hingga US$3,02.
Laba operasi meningkat menjadi US$40,58 miliar, sementara laba bersih tertekan kerugian investasi saham sekitar US$8,7 miliar yang menurut manajemen terutama berasal dari penurunan nilai kepemilikan di SpaceX. Setelah pajak, pos tersebut mengurangi laba bersih sekitar US$6,7 miliar dan laba per saham sebesar US$0,55.
Pendapatan Google Search dan layanan lainnya tumbuh 12% menjadi US$63,35 miliar, lebih lambat dibandingkan pertumbuhan sekitar 17% pada kuartal sebelumnya. CEO Alphabet Sundar Pichai mengatakan pertumbuhan jumlah pencarian tahunan mencapai tingkat tertinggi dalam lima tahun, sedangkan pertanyaan melalui AI Mode rata-rata tiga kali lebih panjang daripada pencarian tradisional.
Kepala Bisnis Google Philipp Schindler menyampaikan bahwa peningkatan penggunaan AI Mode memengaruhi hasil Search karena monetisasinya masih lebih rendah. Ia juga menyebut kurs sebagai faktor terbesar perlambatan, disusul perubahan belanja pengiklan, termasuk normalisasi anggaran media dan hiburan setelah Piala Dunia.
Belanja modal Alphabet mencapai US$51,36 miliar, naik 114,4% secara tahunan, sementara arus kas operasi sebesar US$42,29 miliar. Arus kas bebas pun tercatat negatif US$9,07 miliar; investasi infrastruktur terutama diarahkan untuk server, perangkat jaringan, dan pusat data pendukung AI.
Google Cloud mencatat pendapatan US$30,71 miliar, naik 102,6%, dengan laba operasi sekitar US$11,12 miliar dibandingkan US$3,59 miliar setahun sebelumnya. Alphabet mempertahankan panduan belanja modal 2026 sebesar US$195 miliar hingga US$205 miliar, sementara penggunaan kapasitas komputasi pihak ketiga diperkirakan menekan margin Cloud dalam jangka pendek.