
Menkeu Pastikan Penerbitan SBN Sesuai Target
11 menit yang lalu
Ekonomi RI masih tumbuh di atas 5 persen, tetapi rupiah, inflasi pangan, PHK, dan IHSG tertekan.
Terbit · 2 min read

Menurut laporan CNBC Indonesia, perekonomian Indonesia menjelang akhir Oktober 2026 masih tumbuh di atas 5 persen, tetapi tekanan terhadap rupiah, inflasi pangan, pemutusan hubungan kerja (PHK), dan pasar saham meningkat.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi tumbuh 5,29 persen secara tahunan pada kuartal kedua 2026, melambat dari 5,61 persen pada kuartal pertama. Sepanjang semester pertama pertumbuhan mencapai 5,45 persen, dengan konsumsi rumah tangga tumbuh 5,06 persen dan menyumbang 2,67 poin persentase.
Inflasi September 2026 tercatat 3,28 persen secara tahunan, naik dari 3,19 persen pada Agustus, dan makin mendekati batas atas sasaran Bank Indonesia (BI) sebesar 3,5 persen. Inflasi harga pangan bergejolak naik dari 4,06 persen menjadi 5,03 persen, sedangkan inflasi inti turun dari 2,92 persen menjadi 2,84 persen.
Survei Konsumen BI menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen turun dari 118,5 pada Agustus menjadi 118,1 pada September 2026, tetapi tetap di atas 100. Indeks Penjualan Riil Agustus tumbuh 1,3 persen secara tahunan, sedangkan BI memperkirakan penjualan eceran September tumbuh 1,4 persen secara tahunan dan turun 2,3 persen secara bulanan.
Neraca perdagangan Agustus 2026 mencatat surplus US$3,55 miliar, dengan ekspor US$26,61 miliar dan impor US$23,06 miliar. Impor tumbuh 19,09 persen, jauh di atas ekspor yang tumbuh 6,72 persen, dan menurut laporan yang sama kebutuhan impor yang besar dapat menambah tekanan terhadap rupiah.
Merujuk data Refinitiv, rupiah dibuka melemah 0,06 persen ke Rp18.050 per dolar AS pada Senin (26/10/2026) dan sempat menyentuh Rp18.100, posisi terlemah sejak awal Juni 2026. BI mempertahankan BI Rate 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur 20-21 Oktober 2026, tetapi menaikkan suku bunga Deposit Facility 25 basis poin menjadi 5 persen.
Kementerian Ketenagakerjaan mencatat 63.789 pekerja terkena PHK dan melapor lewat sistem Jaminan Kehilangan Pekerjaan sepanjang Januari-September 2026. Jawa Barat tertinggi dengan 13.044 pekerja, disusul Banten 7.733 orang, dan angka itu belum mencakup seluruh kasus PHK serta masih dapat berubah.
Di pasar saham, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 11,57 persen ke 5.185,11 pada Jumat (16/10/2026) setelah MSCI membuka konsultasi penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia menjadi standalone market. IHSG ditutup di 5.439,26 pada Jumat (23/10/2026), menguat 4,90 persen sepekan, tetapi masih turun sekitar 37,1 persen sejak awal tahun.
Menurut laporan tersebut, BPS akan merilis pertumbuhan ekonomi kuartal ketiga pada awal November. Ketidakpastian mengenai keputusan akhir MSCI diperkirakan tetap membayangi pasar saham Indonesia hingga 2027.