
DKI Siapkan Rp362 Miliar untuk Bantargebang
10 menit yang lalu
Film horor memicu respons otak dan tubuh, dan menurut sumber yang dikutip dapat berdampak positif bagi penonton.
Terbit · 2 min read

Menurut laporan ANTARA, genre film horor memicu aktivitas otak dan respons fisik penontonnya, serta disebut memiliki dampak positif. Sebagian orang menontonnya untuk mengisi waktu luang karena adegan yang menantang adrenalin terasa seru.
Film horor memakai trik psikologis lewat perpaduan gambar, suara, dan alur cerita untuk menciptakan ilusi ketegangan dan bahaya. Menurut laporan yang sama, otak menyadari ancaman itu tidak nyata, tetapi tubuh menangkapnya seakan-akan menghadapi bahaya sungguhan.
Akibatnya, jantung berdebar cepat, adrenalin dilepaskan, dan fokus terhadap film meningkat, bahkan saat penonton berada di tempat aman seperti bioskop atau rumah. Rasa takut, tegang, stres, dan terkejut mendorong sistem saraf otonom melepaskan norepinefrin, kortisol, dan adrenalin, sehingga pupil membesar, jantung berdegup kencang, dan otot menegang.
Mengutip Everyday Health, ANTARA melaporkan bahwa rasa takut membuat otak menganalisis ancaman yang dihadapi, misalnya apakah situasi serupa pernah dialami, bagaimana menghadapinya, dan bagaimana reaksi orang lain. Beberapa bagian otak aktif saat itu, antara lain amigdala yang memproses rasa takut serta lobus frontal yang penting bagi penalaran dan perencanaan.
Penelitian yang dirujuk menemukan bahwa rasa takut saat menonton film horor dapat membuat area otak pemroses informasi visual dan auditori lebih aktif. Setelah adegan menegangkan selesai, aktivitas otak yang berkaitan dengan pengolahan emosi, penilaian ancaman, dan pengambilan keputusan juga naik, yang disebut mendorong rasa bahagia dan kemampuan memecahkan masalah di bawah tekanan.
Menurut laporan tersebut, film horor juga bisa merangsang pemikiran kritis tentang persoalan seperti kekerasan, ketimpangan sosial, keadaan mental, dan ekonomi. Karena kisahnya biasanya berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, penonton dapat mengeksplorasi isu-isu sosial.
Respons otak terhadap ancaman nyata berbeda dengan ancaman dalam film, sebab penonton sadar bahwa situasi mencekam hanyalah fiksi. Karena itu, penonton bisa menikmati sensasi yang timbul, termasuk efek endorfin dan dorongan aliran oksigen ke otak, tanpa menghadapi bahaya langsung.
Mengutip Healthline, ANTARA melaporkan bahwa film horor memberi efek positif meski diwarnai adegan mengerikan, di antaranya menjadi momen untuk menghadapi rasa takut dan terasa melegakan saat konflik terselesaikan. Menurut laporan itu, menontonnya juga dapat melatih orang yang menjalani perawatan gangguan kecemasan atau OCD untuk menghadapi ketakutan dan meyakinkan diri bahwa mereka bisa bertahan.