
Veda Ega Runner-up, Tiwi/Fadia Juara Hylo Open
14 menit yang lalu
Opini tersebut menekankan perlunya sistem energi yang andal saat kebutuhan dan kondisi berubah.
Terbit · 1 min read

Dalam opini pribadi yang diterbitkan CNBCIndonesia.com pada Senin (2/11/2026), penulis menilai Indonesia perlu membangun sistem energi yang mampu beradaptasi terhadap perubahan, bukan hanya menambah kapasitas berdasarkan satu proyeksi masa depan.
Opini tersebut menyebut RUPTL 2025-2034 merencanakan penambahan kapasitas pembangkit sekitar 69,5 gigawatt (GW), sementara agenda pengembangan PLTS 100 GWp menunjukkan ambisi memperluas pemanfaatan energi surya.
Penulis menilai target kapasitas saja belum menjamin sistem energi tangguh. Pembangkit perlu didukung jaringan transmisi, penyimpanan energi, fleksibilitas operasi, dan pengelolaan permintaan.
Opini tersebut menyebut proyeksi permintaan merupakan gambaran kemungkinan, bukan kepastian. Pertumbuhan kendaraan listrik, pusat data, kecerdasan buatan, hilirisasi mineral, dan manufaktur dapat mengubah kebutuhan energi dalam skala serta kecepatan yang berbeda dari perkiraan.
Penulis juga mengaitkan perencanaan energi dengan pengembangan industri. Keandalan pasokan, kualitas listrik, harga yang kompetitif, dan kepastian jangka panjang disebut memengaruhi keputusan investasi industri.
Perubahan harga bahan bakar, konflik pada jalur perdagangan, gangguan pasokan komponen, biaya pembiayaan, dan kebijakan negara mitra turut disebut sebagai ketidakpastian yang perlu diperhitungkan. Opini tersebut mendorong pengujian keputusan investasi terhadap berbagai kemungkinan, alih-alih bergantung pada satu skenario.
Penulis menyebut penilaian investasi perlu mencakup keandalan, fleksibilitas, biaya operasi jangka panjang, serta ketahanan terhadap gangguan, bukan hanya biaya pembangunan awal. Opini tersebut juga menekankan perlunya evaluasi berkala tanpa mengorbankan kepastian arah kebijakan.
Ukuran keberhasilan pembangunan energi, menurut opini tersebut, perlu mencakup kesiapan jaringan, kemampuan mengintegrasikan sumber energi, waktu pemulihan saat terjadi gangguan, kontribusi energi terhadap produktivitas industri, dan penguatan kemampuan teknologi nasional. Sistem yang kuat tetap andal ketika keadaan berbeda dari asumsi perencanaan.