
Studi Jus Cranberry dan Plak Gigi
9 menit yang lalu
Pergeseran anggaran disebut untuk merespons kebutuhan belanja, termasuk penanganan bencana dan subsidi energi.
Terbit · 1 min read

Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan pemerintah telah menggeser hampir Rp200 triliun anggaran untuk mengoptimalkan belanja negara. Menurut laporan CNBC Indonesia, ia menyampaikan hal itu dalam Rapimnas KADIN di Hotel Borobudur, Jakarta, Jumat (30/10/2026).
Suahasil menyebut skala belanja negara mencapai Rp3.843 triliun. Ia mengatakan penyesuaian anggaran berkaitan dengan meningkatnya kebutuhan belanja pemerintah.
Menurut laporan yang sama, Suahasil menyebut gejolak politik dan berbagai bencana sebagai tekanan yang memengaruhi kebutuhan belanja. Ia mengatakan bencana alam tidak pernah direncanakan atau dianggarkan, termasuk kebakaran hutan dan lahan yang sedang ditangani.
Suahasil mengatakan pemerintah telah menggelontorkan dana tambahan anggaran sekitar Rp60 triliun untuk menangani bencana. Ia juga menyebut tekanan eksternal membuat pemerintah harus membayar subsidi dan kompensasi energi, termasuk bahan bakar minyak, lebih mahal.
Realisasi subsidi dan kompensasi hingga akhir September 2026 tercatat Rp376,8 triliun, atau 84,3 persen dari alokasinya dalam APBN. Menurut laporan yang sama, nilainya lebih tinggi daripada periode yang sama tahun lalu; materi tidak menyebutkan angka pembandingnya.
Suahasil menekankan perlunya subsidi yang lebih tepat sasaran. Namun, ia menilai APBN masih diperlukan dalam jangka pendek untuk menahan harga energi agar kegiatan ekonomi tetap berjalan.
Proyeksi belanja negara 2026 meningkat menjadi Rp3.942 triliun dari pagu awal Rp3.843 triliun. Pendapatan diperkirakan naik menjadi Rp3.208 triliun dari Rp3.154 triliun, sedangkan defisit direncanakan sebesar 2,85 persen, naik dari 2,68 persen.
Suahasil mengatakan peningkatan belanja perlu diimbangi dengan kenaikan pendapatan atau pergeseran anggaran yang telah dialokasikan sebelumnya. Ia menyebut dua hal tersebut sebagai rumus penyesuaian anggaran.