
KLIFF 2026 Soroti Integrasi Keuangan Syariah
13 menit yang lalu
Ekonomi NTB tumbuh 7,39 persen secara tahunan, dengan pertambangan dan industri pengolahan sebagai pendorong utama.
Terbit · 1 min read

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Nusa Tenggara Barat tumbuh 7,39 persen secara tahunan pada triwulan ketiga 2026. Menurut laporan ANTARA, pertumbuhan itu ditopang peningkatan aktivitas produksi di hampir seluruh lapangan usaha.
Kepala BPS NTB Wahyudin menyampaikan angka tersebut di Mataram pada Kamis (5/11/2026). Pertumbuhan NTB melampaui laju ekonomi nasional yang tercatat 5,47 persen pada periode yang sama.
Wahyudin mengatakan pertumbuhan itu sedikit melambat dibandingkan triwulan II 2026, yang mencapai 7,41 persen. Ia menyebut capaian NTB sebagai pertumbuhan ekonomi tertinggi kedua di Indonesia; Maluku Utara mencatat pertumbuhan lebih dari 16 persen.
Pertambangan dan penggalian serta industri pengolahan menjadi pendorong utama, dengan nilai masing-masing 30,23 persen dan 19,02 persen. Menurut laporan yang sama, kinerja kedua sektor itu didukung peningkatan produksi konsentrat tembaga seiring siklus produksi tambang yang berada pada fase optimal dan optimalisasi smelter.
Dari sisi pengeluaran, ekspor barang dan jasa mencatat pertumbuhan tertinggi, yakni 31,37 persen. Wahyudin mengatakan, “Kalau kami masukkan tambang, maka pertumbuhan ekonomi NTB sebesar 7,39 persen. Kalau kami keluarkan tambang, pertumbuhan ekonomi hanya 3,73 persen.”
Produk Domestik Regional Bruto NTB atas dasar harga berlaku pada triwulan ketiga 2026 mencapai Rp56,50 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan 2010 sebesar Rp31,06 triliun. Struktur ekonomi daerah didominasi pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 21,07 persen; pertambangan dan penggalian 19,83 persen; serta perdagangan besar dan eceran, termasuk reparasi mobil dan sepeda motor, 13,34 persen.
Secara kuartalan, ekonomi NTB tumbuh 3,90 persen dibandingkan triwulan sebelumnya. Industri pengolahan mencatat pertumbuhan tertinggi dari sisi produksi sebesar 55,79 persen, sementara ekspor barang dan jasa tumbuh tertinggi dari sisi pengeluaran sebesar 9,88 persen. Wahyudin menyebut pertanian, pertambangan, dan perdagangan mencakup lebih dari separuh ekonomi NTB.