
Pengguna Awal iPhone Duo Keluhkan Layar Retak
14 menit yang lalu
Data Bank Dunia 2024 mencatat utang Pakistan ke China US$22,38 miliar, sedangkan Indonesia di peringkat ke-32.
Terbit · 2 min read

Menurut laporan CNBC Indonesia, Pakistan menjadi negara dengan utang terbesar kepada China pada 2024. Data itu berasal dari Bank Dunia dalam International Debt Statistics yang dikutip dari Visual Capitalist, dengan total utang Pakistan kepada kreditur China sebesar US$22,38 miliar.
Angola menyusul di urutan kedua dengan US$14,40 miliar, lalu Sri Lanka dengan US$8,69 miliar. Ethiopia dan Bangladesh melengkapi lima besar dengan masing-masing US$7,44 miliar dan US$6,63 miliar.
Indonesia berada di peringkat ke-32 dengan utang kepada kreditur China sebesar US$1,45 miliar. Posisi itu berada di bawah Guinea yang mencatat US$1,65 miliar, tetapi masih di atas Mozambik, Tanzania, dan Djibouti. Menurut laporan yang sama, utang Pakistan lebih dari 15 kali lipat dibandingkan Indonesia.
Data tersebut secara khusus menghitung posisi utang luar negeri jangka panjang sektor publik dan utang yang dijamin pemerintah kepada kreditur China pada 2024. Karena itu, angkanya tidak mencakup seluruh jenis utang luar negeri suatu negara kepada China. Besarnya nilai utang juga tidak bisa langsung dipakai untuk menilai kondisi keuangan suatu negara, sebab kemampuan membayar dipengaruhi ukuran ekonomi, pendapatan negara, cadangan devisa, serta jadwal pembayaran pokok dan bunga.
Menurut laporan yang sama, besarnya utang Pakistan terkait dengan proyek China-Pakistan Economic Corridor (CPEC). Hingga akhir 2024, sebanyak 17 proyek energi yang rampung melalui CPEC menambah kapasitas pembangkit listrik sebesar 8.904 megawatt, dan jalan tol serta jalan raya yang selesai dibangun mencapai 888 kilometer. Pada Maret 2025, China memberikan perpanjangan waktu pembayaran selama satu tahun untuk pinjaman Pakistan senilai US$2 miliar.
Angola memiliki hubungan pembiayaan dengan China sejak masa pembangunan kembali setelah perang saudara, dengan fasilitas pinjaman awal senilai US$2 miliar pada 2004. Hubungan itu berkembang karena Angola juga produsen minyak, tetapi pada 2024 utangnya tercatat turun hampir seperlima dibandingkan tahun sebelumnya. Di Kenya, sekitar 90 persen biaya pembangunan jalur kereta api Mombasa-Nairobi dibiayai pinjaman dari China.
Proyek-proyek tersebut juga melibatkan perusahaan China dalam konstruksi, penyediaan peralatan, dan kegiatan operasional. Dengan demikian, pembiayaan infrastruktur luar negeri turut membuka peluang bisnis bagi perusahaan konstruksi dan teknologi asal China.
Besarnya pinjaman dari China memunculkan perdebatan tentang kemampuan negara penerima memenuhi kewajibannya, termasuk istilah diplomasi jebakan utang. Sri Lanka sering dikaitkan dengan perdebatan itu lewat pembangunan Pelabuhan Hambantota, tetapi sejumlah penelitian menilai kesulitan utangnya tidak hanya disebabkan pinjaman China, melainkan juga kebijakan ekonomi domestik dan kewajiban kepada kreditur lain. Laporan tersebut menyebut setiap negara perlu memastikan proyek yang dibiayai memberi manfaat ekonomi memadai dan utangnya dapat dibayar sesuai kemampuan keuangan.
Download the Hive app for live alerts and offline reading.