
Yenny Wahid Nilai Capaian Panjat Tebing Belum Memuaskan
14 menit yang lalu
Perjalanan ziarah di Flores menggabungkan pengalaman spiritual, budaya, alam, dan interaksi dengan masyarakat setempat.
Terbit · 2 min read

Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) mendorong Camino de Flores menjadi salah satu ikon wisata religi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Menurut laporan ANTARA, program ini memadukan perjalanan spiritual, kekayaan budaya, alam, dan kepedulian sosial.
Pelaksana Tugas Direktur Utama BPOLBF Andhy MT Marpaung menyampaikan hal itu di Labuan Bajo. Rangkaian Camino de Flores Etape Tengah melintasi Kabupaten Ngada, Nagekeo, dan Ende, lalu berakhir pada Senin (26/10/2026) setelah peserta berjalan sekitar 70 kilometer.
Andhy mengatakan perjalanan tersebut juga membuka ruang interaksi antara wisatawan dan masyarakat serta mendukung pelestarian warisan budaya lokal. “Camino de Flores menunjukkan bahwa perjalanan wisata dapat menjadi ruang untuk membangun kedekatan dengan masyarakat, mengenal warisan budaya, sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap daerah yang dikunjungi,” katanya.
Pada hari terakhir, peserta berjalan menuju Puncak Danau Kelimutu, lalu melanjutkan perjalanan sekitar 13 kilometer ke Desa Wisata Waturaka, Kabupaten Ende. Sepanjang rute, peserta berkesempatan berinteraksi dengan warga dan mengenal kehidupan setempat.
Rangkaian kegiatan juga mencakup kunjungan ke Serambi Soekarno di Biara Santo Yosef, Ende. Situs itu berkaitan dengan masa pengasingan Presiden pertama RI Soekarno di Ende pada 1934–1938, saat ia membaca, berdiskusi, dan bertukar gagasan dengan para biarawan.
Kegiatan ditutup dengan Misa Penutupan Camino de Flores yang dipimpin Uskup Agung Ende Mgr. Paulus Budi Kleden di Gereja Katedral Kristus Raja, Ende. Acara dilanjutkan dengan ramah tamah dan makan malam di Rumah Kevikepan Ende.
Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena mengapresiasi kegiatan tersebut dan menilai Camino de Flores berpotensi menjadi kekhasan wisata religi di NTT. Ia mengatakan program itu telah diluncurkan di Kementerian Pariwisata dan mendapat perhatian sebagai salah satu percontohan pengembangan wisata religi.
Menteri Pariwisata periode 2011–2014 Mari Elka Pangestu mengatakan perjalanan sekitar 70 kilometer itu sekaligus menjadi upaya menggalang dukungan bagi masyarakat Flores, termasuk pemulihan pascagempa. Ia juga menyebut pertemuan dengan warga di sepanjang rute sebagai pengalaman berkesan. Melkiades berharap kegiatan ini berlanjut melalui kolaborasi pemerintah, gereja, pelaku pariwisata, dan pihak terkait.