
AS Gelar Lokakarya Semikonduktor di Bali
39 menit yang lalu
Penulis menggambarkan pemeriksaan perbatasan, perjumpaan dengan pemandu, dan pengalaman beribadah di kompleks Al-Aqsa.
Terbit · 2 min read

Dalam catatan perjalanan yang dimuat Manado Post, penulis menceritakan pengalaman rombongannya melewati pos pemeriksaan Israel dan beribadah di kompleks Masjid Al-Aqsa. Ia menjalani perjalanan sebagai jemaah sekaligus pengamat yang ingin memahami kehidupan masyarakat di wilayah Palestina.
Penulis menulis bahwa rombongan menghadapi pemeriksaan perbatasan sebelum melanjutkan perjalanan menuju Yerusalem. Seorang petugas meminta kehadiran ketua rombongan, Bunda Zakia Fahmia Yusuf, yang mewakili Ventour Travel, lalu menanyakan dokumen dan barang titipan, termasuk senjata.
Menurut catatan penulis, rombongan menjawab, “Tidak!” saat ditanya tentang senjata. Ia menggambarkan suasana pemeriksaan sebagai pengalaman yang menegangkan, meski seorang petugas kemudian mengembalikan paspornya sambil tersenyum dan berkata, “Terima kasih.”
Setelah pemeriksaan sinar-X, jemaah berjalan sekitar dua ratus meter menuju bus sambil membawa barang bawaan. Dalam perjalanan berikutnya, pemandu bernama Alibaba, yang berasal dari Mesir, dan Muhammad, pemandu lokal di wilayah Palestina, memberi penulis sudut pandang berbeda tentang tempat dan identitas.
Saat memasuki Jericho, Muhammad menyebut penduduk kota itu seluruhnya Muslim dan mengatakan kota tersebut memiliki pemerintahan sendiri serta tidak berada di bawah pemerintahan Israel. Penulis menegaskan bahwa pernyataan tentang agama penduduk itu merupakan ucapan pemandu yang ia dengar, bukan data demografis yang telah ia verifikasi.
Rombongan kemudian menuju Yerusalem untuk beribadah di kompleks Masjid Al-Aqsa. Setelah bus kesulitan memasuki garasi hotel, jemaah bertayamum dan melaksanakan salat Zuhur serta Asar secara jamak ta’khir sebelum berupaya salat Magrib dan Isya di kompleks tersebut.
Penulis belakangan memahami bahwa bangunan berkubah emas tempat rombongan salat adalah Kubah Batu, yang berada di dalam kompleks Masjid Al-Aqsa. Ia juga menceritakan dua perempuan Muslim keturunan Pakistan berpaspor Inggris yang mengatakan mereka ditolak masuk ke kompleks itu; penulis menyatakan ia tidak menyaksikan penolakan tersebut.
Pengalaman yang diceritakan kedua perempuan itu, menurut penulis, berbeda dari pengalaman rombongannya yang dapat memasuki kompleks untuk beribadah. Dalam catatannya, ia membedakan cerita yang ia dengar dari pengalaman yang ia saksikan dan menggambarkan perjalanan tersebut sebagai pengalaman yang memunculkan pertanyaan tentang tempat, identitas, kewenangan, dan akses ke ruang ibadah.
Download the Hive app for live alerts and offline reading.