
Kemenhub Periksa Kelaikan 2.140 Kapal
11 menit yang lalu
Tudung saji melindungi makanan dari debu dan serangga, tetapi keamanan juga bergantung pada suhu dan cara penyimpanan.
Terbit · 1 min read

Tudung saji dapat membantu melindungi makanan dari debu dan serangga, tetapi tidak membuat makanan matang aman disimpan lama. Menurut laporan CNNIndonesia.com, keamanan makanan juga dipengaruhi suhu dan cara penyimpanannya.
Ahli gizi Adisty Pavitasari menjelaskan pada Senin (19/10/2026) bahwa makanan matang sebaiknya tidak dibiarkan pada suhu ruang lebih dari dua jam. Ia menyebut rentang suhu sekitar 5-60 derajat Celsius sebagai zona bahaya, saat bakteri dapat berkembang biak dengan cepat.
Bacillus cereus dapat ditemukan pada nasi. Jika nasi matang dibiarkan terlalu lama pada suhu tidak aman, bakteri tersebut berisiko menyebabkan keracunan makanan.
Menurut laporan yang sama, makanan yang disimpan di lemari pendingin sebaiknya ditempatkan dalam wadah kedap udara. Wadah itu dapat membantu melindungi makanan dari kontaminasi silang dengan makanan lain atau paparan lingkungan penyimpanan.
Jenis tudung saji juga memiliki perbedaan. Model jaring memungkinkan sirkulasi udara, sedangkan tudung saji akrilik yang lebih tertutup dapat menahan uap panas jika digunakan saat makanan masih mengeluarkan uap.
Adisty menjelaskan bahwa uap yang terperangkap pada tudung saji akrilik dapat mengembun menjadi titik-titik air. Kondisi lembap dapat mendukung pertumbuhan mikroba bila makanan tidak ditangani dengan tepat.
Untuk mengurangi kondensasi, Adisty menyarankan agar makanan sudah tidak mengeluarkan uap panas sebelum ditutup dengan tudung saji akrilik. Sementara itu, celah pada tudung saji jaring masih memungkinkan debu halus masuk.
Laporan CNNIndonesia.com juga mengulas kebiasaan Putri menggunakan tudung saji di kos. Ia biasanya memasak sekali untuk disantap beberapa kali, termasuk pada malam hari.
Dalam tradisi Nganggung di Bangka Belitung, warga membawa makanan dalam dulang yang ditutup tudung saji ke masjid, surau, atau tempat berkumpul untuk disantap bersama. Tradisi ini juga dikenal sebagai Sepintu Sedulang; penelitian Universitas Bangka Belitung membahas perannya dalam mempertahankan identitas budaya masyarakat Melayu Bangka serta perubahan penggunaan wadahnya.