
Polres Mesuji Ungkap Peredaran Narkoba dan Senpi Rakitan
10 menit yang lalu
Alergi kucing dipicu protein pada air liur dan kulit, sedangkan bulu hanya membawa alergen ke lingkungan.
Terbit · 1 min read

Menurut laporan CNN Indonesia, bulu kucing bukan penyebab langsung alergi pada manusia. Pemicu utamanya adalah protein tertentu dalam air liur dan kulit kucing, sedangkan bulu hanya membawa alergen tersebut.
Bersin-bersin atau hidung gatal setelah berada di dekat kucing memang sering dikaitkan dengan bulu. Menurut laporan yang sama, alergen itu bisa menempel pada bulu, serpihan kulit, pakaian, hingga perabot rumah.
Purina Institute menyatakan, alergen yang memicu reaksi pada manusia terutama berasal dari kelenjar air liur dan kelenjar minyak pada kulit kucing. Bertentangan dengan anggapan umum, bulu bukan penyebab langsung reaksi alergi.
Menurut Purina Institute, saat kucing menjilati tubuhnya, protein pemicu alergi berpindah ke bulu dan kulit. Alergen kemudian menyebar ke lingkungan bersama bulu yang rontok dan serpihan kulit mati.
Laporan itu juga mengutip Mayo Clinic, yang menyebut alergen kucing terdapat pula dalam air liur, urine, dan keringat. Partikel alergen berukuran kecil dapat bertahan di udara serta menempel pada pakaian, karpet, dan furnitur.
Reaksi alergi muncul ketika sistem kekebalan tubuh menganggap alergen sebagai zat berbahaya. Akibatnya, tubuh memicu respons yang dapat memengaruhi hidung, mata, kulit, dan saluran pernapasan.
Gejala pada hidung berupa bersin, hidung berair, hidung tersumbat, atau rasa gatal pada hidung dan tenggorokan. Pada mata, gejalanya berupa mata merah, gatal, atau berair.
Reaksi kulit dapat berupa kulit gatal, eksim, atau bentol-bentol yang dikenal sebagai biduran. Gangguan pernapasan mencakup batuk, mengi, sesak napas, atau dada terasa sesak.