
Kimi Antonelli Menang di Austin, Dekati Gelar Juara F1
14 menit yang lalu
Diabetes tak hanya dialami lansia; sejumlah faktor risiko dapat meningkatkan peluangnya pada anak, remaja, dan dewasa muda.
Terbit · 2 min read

Menurut laporan ANTARA, diabetes yang selama ini kerap dianggap menyerang lanjut usia juga bisa dialami anak-anak, remaja, hingga orang dewasa berusia muda. Penyakit ini ditandai dengan tingginya kadar gula darah.
Menurut laporan yang sama, diabetes tipe 2 dapat berkembang perlahan tanpa gejala yang jelas pada tahap awal, sehingga sebagian orang baru menyadarinya setelah menjalani pemeriksaan kesehatan. Diabetes terjadi ketika tubuh tidak menghasilkan cukup insulin atau tidak dapat menggunakan hormon itu secara efektif, dan kadar gula darah tinggi dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko gangguan pada jantung, ginjal, mata, dan saraf.
Faktor risiko pertama adalah riwayat keluarga. Bila orang tua atau saudara kandung mengidap diabetes tipe 2, risiko seseorang dapat meningkat karena faktor genetik dan kemungkinan kebiasaan hidup yang sama, tetapi hal itu tidak berarti ia pasti mengalaminya.
Berat badan berlebih dan obesitas juga menjadi faktor risiko penting, antara lain karena berkaitan dengan resistensi insulin, yaitu sel tubuh tidak merespons insulin secara optimal. Namun, orang dengan berat badan normal tetap bisa mengalami diabetes akibat faktor genetik, gangguan autoimun, atau penyebab lain.
Kurang aktivitas fisik, seperti terlalu lama duduk, jarang berolahraga, dan banyak menghabiskan waktu di depan layar, dapat berkontribusi pada peningkatan risiko diabetes tipe 2. Saat beraktivitas, otot menggunakan glukosa sebagai energi dan tubuh merespons insulin dengan lebih baik, sedangkan kurang bergerak dapat memicu penumpukan lemak.
Pola makan yang kurang seimbang, misalnya porsi berlebihan, makanan tinggi kalori, kurang sayur dan buah, serta sering mengonsumsi minuman manis, juga perlu diperhatikan. Meski begitu, diabetes tidak muncul hanya karena seseorang sesekali makan makanan manis, sebab risikonya dipengaruhi kombinasi keturunan, berat badan, aktivitas fisik, dan kondisi kesehatan.
Pradiabetes, yakni kadar gula darah lebih tinggi dari batas normal tetapi belum memenuhi kriteria diagnosis diabetes, dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2 dan sering tanpa gejala. Tekanan darah tinggi dan gangguan kolesterol juga berkaitan dengan peningkatan risiko tersebut, sedangkan perempuan yang pernah mengalami diabetes gestasional atau diabetes selama kehamilan berisiko lebih tinggi mengalami diabetes tipe 2 di kemudian hari.
Laporan itu menyebut diabetes tipe 1 juga dapat dialami anak-anak, remaja, dan dewasa muda, dengan mekanisme berbeda karena sistem kekebalan tubuh menyerang sel pankreas penghasil insulin. Penyebab pastinya belum sepenuhnya diketahui dan penyakit ini tidak dapat dicegah dengan perubahan gaya hidup saja, sehingga anggapan bahwa semua diabetes usia muda akibat makan manis atau berat badan berlebih tidak tepat, demikian rangkuman ANTARA dari penjelasan CDC dan sumber lain.