
Mas Asmaoen, Dokter Indonesia Lulusan Belanda
13 menit yang lalu
Tulisan ANTARA mengaitkan Hari Dokter Nasional dengan makna kemerdekaan dan tanggung jawab negara atas kesehatan warga.
Terbit · 1 min read

Menurut tulisan yang dimuat ANTARA dari Sleman, DIY, Hari Dokter Nasional diperingati setiap 24 Oktober, tanggal berdirinya Ikatan Dokter Indonesia (IDI) pada 24 Oktober 1950.
Tulisan itu menggambarkan Indonesia pada 1950 sebagai negara yang baru lima tahun merdeka. Pengakuan kedaulatan diperoleh pada akhir 1949, tetapi perang meninggalkan luka dan akses terhadap pelayanan kesehatan belum merata.
Penulis menilai berdirinya IDI bukan sekadar lahirnya organisasi profesi, melainkan bagian dari upaya memastikan manusia memiliki kesempatan untuk hidup sehat. Menurut dia, negara yang merdeka belum tentu membuat warganya bebas dari keadaan yang membelenggu, seperti kemiskinan yang menghalangi orang berobat.
Dalam tulisan tersebut, penulis berpendapat bahwa peluang pasien untuk sembuh juga ditentukan oleh pendidikan, pendapatan, lingkungan, gizi, sanitasi, dan kebijakan publik. Karena itu, pekerjaan dokter dinilai tidak berhenti pada resep atau tindakan medis.
Menurut laporan yang sama, pelayanan kesehatan kini semakin sering dibicarakan melalui bahasa tarif, paket layanan, dan efisiensi. Penulis mengakui rumah sakit memerlukan biaya dan dokter berhak memperoleh penghasilan layak, tetapi mengingatkan bahwa pasien berisiko dipandang sebatas pelanggan.
Penulis juga menyebut tidak semua penyakit dapat disembuhkan, sehingga dunia kedokteran membutuhkan ilmu sekaligus kerendahan hati. Ia menilai pengabdian dapat menjadi kata yang kejam bila dipakai untuk menganggap kelelahan sebagai kewajiban atau upah tak layak sebagai pengorbanan.
Menurut penulis, jika negara menghendaki dokter menjaga kesehatan rakyat, negara berkewajiban menyediakan kondisi yang memungkinkan pekerjaan itu dilakukan dengan baik. Ia menyebut pendidikan bermutu, distribusi tenaga kesehatan yang adil, perlindungan profesi, dan sistem pelayanan yang manusiawi sebagai bagian dari tanggung jawab kepada pasien.
Tulisan itu menyimpulkan bahwa peringatan 24 Oktober tidak hanya soal hari lahir sebuah organisasi. Menurut penulis, kemerdekaan bukan sesuatu yang selesai dibuat pada satu tanggal, melainkan pekerjaan yang terus berlangsung.