
Justin Bieber Tiba di Seoul, Korea Selatan
15 menit yang lalu
Pendidikan di Belanda tidak menghindarkan Asmaoen dari diskriminasi dalam kariernya di Hindia Belanda.
Terbit · 1 min read

Menurut laporan CNBC Indonesia, Mas Asmaoen menjadi orang Indonesia pertama yang meraih gelar dokter setelah menempuh pendidikan di Universitas Amsterdam. Kariernya di Hindia Belanda kemudian terhambat oleh diskriminasi di lingkungan militer kolonial.
Asmaoen lahir di Surakarta pada 1880 dan menempuh pendidikan di School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA). Sekolah itu mendidik bumiputra menjadi dokter Jawa.
Pada 1904, Menteri Urusan Daerah Jajahan Dirk Fock membuka kesempatan bagi lulusan STOVIA untuk melanjutkan pendidikan kedokteran di Belanda. Asmaoen, Abdul Rivai, dan Mas Boenjamin termasuk tiga orang yang mengikuti kesempatan tersebut di Universitas Amsterdam.
Menurut laporan CNBC Indonesia yang merujuk buku Harry A. Poeze, Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda, 1600-1950 (2008), Asmaoen lulus pada 1908 lebih dahulu daripada dua rekannya. Ia pun disebut sebagai orang Indonesia pertama yang menjadi dokter.
Setelah lulus, Asmaoen bekerja selama beberapa bulan di Institute of Naval and Tropical Medicine di Hamburg, Jerman. Ia kemudian diangkat menjadi perwira kesehatan Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL), atau Tentara Kerajaan Hindia Belanda, dan menjadi orang Indonesia pertama yang menempati posisi itu.
Poeze menjelaskan bahwa karier Asmaoen di KNIL terhenti karena perwira Belanda menolak memperlakukannya sebagai rekan setara. Di tengah sistem kolonial yang membedakan masyarakat berdasarkan asal-usul dan warna kulit, gelar serta jabatannya tidak menghapus batas tersebut.
Asmaoen kemudian dipindahkan ke Irian, jatuh sakit, lalu kembali ke Belanda untuk menetap. Menurut Poeze, ia juga kesulitan menyesuaikan diri saat kembali ke Hindia Belanda setelah lama tinggal di Eropa; Asmaoen meninggal pada 1916.
Download the Hive app for live alerts and offline reading.