
Aliansi Ulama Jatim Desak Evaluasi Jabatan Wapres
52 menit yang lalu
Kiai Azaim memaknai Hari Santri sebagai landasan nilai kebangsaan dan tanggung jawab menjaga kemerdekaan.
Terbit · 1 min read

Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KHR Ahmad Azaim Ibrahimy menyebut Hari Santri Nasional sebagai pijakan nilai dan landasan pemikiran dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Menurut laporan ANTARA, ia menyampaikan pandangan itu di Situbondo, Jawa Timur, pada Kamis (22/10/2026).
Azaim, pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, Situbondo, mengatakan Hari Santri tidak hanya menjadi peringatan tahunan. Ia menyebutnya sebagai pandangan hidup dan dasar bagi kaum santri untuk negeri.
“Artinya, Hari Santri Nasional adalah pandangan hidup, atau landasan pemikiran, pilar penopang atau dasar kaum santri untuk negeri,” kata Azaim, menurut laporan ANTARA.
Ia menjelaskan bahwa nilai Hari Santri perlu dimaknai sebagai pandangan hidup yang memperkuat keteraturan dan kedamaian Negara Kesatuan Republik Indonesia. Menurutnya, nilai-nilai itu menggambarkan prinsip dasar yang menopang keteraturan dan peradaban bangsa.
Azaim mengatakan mempertahankan kemerdekaan Indonesia merupakan amanah seluruh lapisan masyarakat, termasuk kalangan pesantren. “Ada poin mempertahankan kemerdekaan negara Indonesia yang wajib dibela oleh seluruh lapisan bangsanya, termasuk insan pesantren dari kalangan umat Islam Indonesia yang mayoritas,” katanya.
Menurut laporan yang sama, Azaim mengaitkan semangat perjuangan santri dengan Resolusi Jihad yang dikeluarkan PBNU di Surabaya pada 22 Oktober 1945. Resolusi itu merupakan hasil rapat besar wakil-wakil daerah Nahdlatul Ulama se-Jawa dan Madura pada 21–22 Oktober 1945.
Dokumen tersebut memuat seruan kepada pemerintah untuk mengambil tindakan dalam mempertahankan kemerdekaan dan agama. Naskah Resolusi Jihad yang dikutip ANTARA dari laman Kementerian Agama menggunakan ejaan lama.
Download the Hive app for live alerts and offline reading.